Tampilkan postingan dengan label Kopaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2018

Mulai Pukul 22.00, 3 Perempatan Lampu Merah di Jalan Mampang Prapatan Ditutup

Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan uji coba menutup tiga perempatan atau simpang di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan, secara bertahap pada Jumat (18/5/2018), mulai pukul 22.00 WIB.
Saat ini, arus lalu lintas di ketiga simpang itu diatur dengan adanya lampu lalu lintas atau lebih dikenal lampu merah.
Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan, uji coba penutupan simpang ini dilakukan untuk memperlancar arus lalu lintas pasca-beroperasinya lintas bawah atau underpass Mampang-Kuningan. "
Untuk mengoptimalkan pengoperasian underpass Mampang-Kuningan, maka dilakukan pengaturan beberapa simpang. Tentunya dalam rangka peningkatan kinerja jaringan Jalan Buncit Raya," ujar Sigit, melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Kamis (17/5/2018). Baca juga: Ada Genangan di Underpass Mampang, Sandiaga Minta Pompa Difungsikan Dengan penutupan simpang tersebut, kendaraan harus berputar di putaran (u-turn) di atas underpass Mampang-Kuningan atau putaran di depan Garasindo. Berikut detail pengalihan atau rekayasa lalu lintas yang akan diberlakukan setelah tiga simpang di Jalan Mampang Prapatan ditutup:

1. Penutupan simpang Jalan Mampang Prapatan Raya - Jalan Mampang Prapatan 7 - Jalan Mampang Prapatan 8:
- Lalu lintas dari arah utara (Kuningan) menuju barat yang semula belok kanan menuju Jalan Mampang Prapatan 7, dialihkan berputar di putaran depan Garansindo.
- Lalu lintas dari arah timur (Mampang Prapatan 8) menuju barat dan utara yang semula belok kanan menuju Kuningan dan lurus menuju Jalan Mampang Prapatan 7, dialihkan belok kiri, kemudian berputar di putaran depan Garansindo.
- Lalu lintas dari arah barat (Mampang Prapatan 7) menuju selatan yang semula belok kanan menuju Ragunan, dialihkan belok kiri, kemudian berputar di atas putaran lintas bawah Mampang.

2. Penutupan simpang Jalan Mampang Prapatan Raya - Jalan Duren Tiga Raya - Jalan Kemang Utara 9:
- Lalu lintas dari arah utara (Kuningan) menuju barat yang semula belok kanan menuju Jalan Kemang Utara 9, dialihkan berputar di putaran depan Garansindo.
- Lalu lintas dari arah timur (Duren Tiga Raya) menuju barat dan utara yang semula belok kanan menuju Kuningan dan lurus menuju Jalan Kemang Utara 9, dialihkan belok kiri, lalu berputar di putaran depan Garansindo.
- Lalu lintas dari arah barat (Kemang Utara 9) menuju selatan yang semula belok kanan menuju Ragunan, dialihkan belok kiri, lalu berputar di atas putaran lintas bawah Mampang.

3. Penutupan simpang Jalan Mampang Prapatan Raya - Jalan Duren Bangka - Jalan Duren Tiga Selatan:
- Lalu lintas dari arah utara (Kuningan) menuju barat yang semula belok kanan menuju Jalan Duren Bangka, dialihkan berputar di putaran depan Garansindo.
- Lalu lintas dari arah timur (Duren Tiga Selatan) menuju barat dan utara yang semula belok kanan menuju Kuningan dan lurus menuju Jalan Duren Bangka, dialihkan belok kiri, kemudian berputar di putaran depan Garasindo.
- Lalu lintas dari arah barat (Duren Bangka) menuju selatan yang semula belok kanan menuju Ragunan, dialihkan belok kiri, kemudian berputar di atas putaran lintas bawah Mampang.

Dengan adanya rekayasa lalu lintas ini, Dinas Perhubungan DKI Jakarta meminta bus Kopaja 57 trayek Blok M-Kampung Rambutan untuk menyesuaikan rute perjalanannya.

Jumat, 25 November 2016

DKI Bentuk SBU Transjakarta

Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI membentuk Strategi Bisnis Unit (SBU) Transjakarta. SBU tersebut dibentuk sebagai wadah bagi pengusaha angkutan umum perorangan untuk bergabung dengan PT Transjakarta.

Wakil Kepala Dishubtrans DKI Jakarta, Sigit Widjatmoko mengatakan pembentukan SBU Transjakarta ini sebagai langkah untuk memperbaiki transportasi di Ibukota. Karena selama ini para pengusaha angkutan umum seperti Metromini, Kopaja, dan Kopami, kesulitan meremajakan angkutannya.

"Makanya untuk penggabungan angkutan umum ke Transjakarta, kami sudah mengakomodir dengan membentuk SBU Transjakarta," katanya, Jumat (25/11).

Sigit mengungkapkan, pihaknya memberikan batas waktu kepada para pengusaha angkutan umum untuk meremajakan armadanya hingga 2018 mendatang. Khususnya bagi kendaraan yang sudah berusuia di atas 10 tahun.

"Karena sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 tahun 2014, masa pakai kendaraan angkutan umum paling lama 10 tahun," ujarnya.

Menurut Sigit, pembentukan SBU Transjakarta tersebut sudah mulai disosialisasikan kepada para pengusaha angkutan umum dan seluruh operator. Nantinya armada yang dimiliki pengusaha harus diserahkan kepada SBU Transjakarta untuk ditukar dengan armada baru.

"Dengan uang muka dan pola kredit lima sampai tujuh tahun, mereka akan mendapatkan kendaraan setelah tahun kredit selesai," tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini tercatat sudah ada 10 pemilik metromini yang menyetorkan uang muka ke SBU Tranjakarta untuk peremajaan armadanya. Beberapa pengusaha lainnya sedang melakukan negosiasi terkait dengan nilai uang muka.

Kamis, 03 Desember 2015

Upaya TransJakarta - KCJ integrasikan transportasi

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sedang menjajaki sejumlah alternatif rute Angkutan Umum Pengumpan (feeder) yang mengintegrasikan bus TransJakarta dengan Commuterline.

Wacana mengenai Angkutan Umum Pengumpan muncul seiring peningkatan kebutuhan angkutan umum bagi pengguna Commuterline. Utamanya, di stasiun-stasiun yang tidak terintegrasi dengan jalur TransJakarta.

Sejumlah alternatif yang tengah dikaji ialah rute Stasiun Tebet lewat jalan Kasablanka, Stasiun Duren-Kalibata lewat Dewi Sartika, dan Stasiun Tanah Abang lewat Karet.

Antonius mengungkapkan, alternatif rute tersebut masih akan dikaji lagi bersama Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta, Suku Dinas setempat, Dinas Pertamanan, dan Dinas Bina Marga. Manajemen rekayasa lalu lintas (MRLL) juga dibutuhkan sebelum direalisasikan.

“Untuk tahap pertama Angkutan Umum Pengumpan yang akan dioperasikan kami usulkan dari lokasi pemukiman dan sekitar terminal umum Ragunan masuk ke Koridor 6 dan ke Monas atau Dukuh Atas,” kata Direktur Utama TransJakarta Antonius Steve Kosasih dalam keterangan resminya kepada KONTAN, Kamis (3/12).

“Tahap berikutnya adalah lewat jalan Kasablanka dan menjemput para penumpang di Stasiun Tebet,” imbuhnya.

Kopaja sendiri sudah menyiapkan sekitar 300 unit bus untuk dijadikan sebagai Angkutan Umum Pengumpan. Namun, baru sekitar 100 unit yang perizinannya selesai pada tahap pertama. Izin 200 bus lainnya akan diselesaikan paling lambat awal tahun depan.

“Sebab, pengadaannya sudah selesai di bulan November kemarin,” ujar pria yang akrab disapa Kosasih itu.

Jasa layanan Rp/km Operator Angkutan Umum Pengumpan sudah diajukan kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) pada bulan November melalui eKatalog.

“Rencananya pada tanggal 11 Desember ini kami akan launching kesiapan secara fisik 300 bus dan segera akan mengoperasikan bus-bus Angkutan Umum Pengumpan yang sudah mendapatkan izin dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Dishubtrans dan Polri,” tutur Antonius.

Minggu, 02 Agustus 2015

Percantik Kopaja Dan Metro Mini, DKI Luncurkan 60 Bus

Pemprov DKI Jakarta akan memperoleh tambahan sebanyak 60 unit bus tunggal tahun ini. Puluhan bus tersebut merupakan bagian dari revitalisasi angkutan umum di ibu kota. Nantinya bus-bus itu untuk meremajakan metromini, kopaja dan kopami yang usianya sudah puluhan tahun.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, pihak operator yang membeli, akan dibayar rupiah per kilometer oleh Pemprov DKI. Puluhan bus tunggal ini diproduksi oleh perusahaan oto bus asal Jepang, Hino dan dirakit di Indonesia.

"Jadi Hino sudah siap, tahun ini ada 60 unit. Tahun depan mulai bikin komponen yang chasis gas. Mereka bisa membuat 2.000 unit per tahun. Ini yang kami harapkan," kata Ahok, Jumat (31/7) malam.

Spesifikasi bus tersebut akan sama persis dengan bus single Transjakarta yang sudah ada saat ini. Sebab Basuki sudah tidak menginginkan lagi adanya bus kopaja, kopami dan metromini yang ukurannya seperti sekarang ini.
"Jadi bus semakin besar. Kalau makin besar busnya, makin banyak yang diangkut," ujar Ahok.

Komponen yang digunakan untuk merakit bus tersebut 40-50 persen diantaranya merupakan komponen lokal. Apalagi spesfikasi Hino sudah sangat tinggi dan memiliki pabrik di Indonesia, termasuk untuk yang dibeli DKI ini bodinya sudah dibuat di Ungaran, Jawa Tengah.

Pihak Hino menargetkan bus tersebut sudah bisa digunakan sekitar bulan Oktober hingga Desember. Bus tersebut nanti akan digunakan atau dioperasikan oleh kopami, kopaja dan metromini dengan sistem rupiah per kilometer yang akan dibayar oleh Pemprov DKI. Ke-60 bus ini nantinya akan masuk dalam e-catalogue Lembaga Kebijakan Pengadaan barang dan jasa Pemerintah (LKPP). Operator yang berminat harus membeli melalui sistem yang ada.

Selasa, 09 Desember 2014

Basuki: Angkutan Umum Perorangan Digabung ke BUMD Transjakarta


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan pemilik usaha angkutan umum perorangan diminta bergabung dengan BUMD Transjakarta agarbisa terkelola dengan baik. Sebab, pemilik usaha angkutan umum perorangan tentu tidak bisa memenuhi persyaratan Undang-Undang, diantaranya harus mempunyai depo.

Hal ini disampaikan Basuki usai menerima tim Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) membahas revitalisasi angkutan umum, di Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (9/12). Lebih lanjut Basuki menambahkan jika bergabung dengan BUMD Transjakarta, maka pemilik usaha angkutan perorangan tidak akan habis dan lebih mudah mencari tambahan permodalan.

Basuki pun menuturkan sejumlah usulan yang disampaikan yakni terkait pembayaran angkutan umum per kilometer dan jumlah bus tidak bisa terus ditambah karena harus ada moda transportasi berbasis rel. Selanjutnya Basuki menegaskan, dirinya menginginkan agar pembenahan angkutan umum di Jakarta dapat terselesaikan dalam waktu 3 tahun.
[BeritaJakarta]

Senin, 22 September 2014

Tiket Kopaja AC Kembali Dijual di Halte Transjakarta

Kopaja, salah satu perusahaan angkutan umum di Jakarta, kembali menjual tiket kelas eksekutif berpengatur suhu udara (Kopaja AC) di Halte Transjakarta, setelah menghentikannya pada Agustus lalu.

Langkah tersebut diambil karena jumlah penumpang turun hingga 50 persen.

"Mereka enggan naik karena mesti bayar dua kali," kata Pengendali Lapangan Kopaja AC Frans Pancoro di Jakarta, Senin (22/9).

Dia menuturkan, tiket Kopaja AC kembali dijual hari ini untuk koridor enam, yakni rute Ragunan-Dukuh Atas, dan koridor sembilan, Pinang Ranti-Pluit.

Harga tiket mengalami kenaikan Rp 1.000, dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000.

Sistem tiket kertas yang diberlakukan saat ini bersifat sementara, dan akan beralih ke sistem elektronik seperti Transjakarta.

"Nanti tetap disesuaikan kalau sistem tiket elektronik sudah siap," ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menarik tiket kertas Kopaja AC terkait kebijakan penerapan tiket elektronik.

Akibatnya, penumpang Kopaja AC harus membayar dua kali, yaitu membeli tiket Transjakarta Rp 3.500, dan membayar di Kopaja AC sebesar Rp 5.000.

Jumat, 18 Juli 2014

Mulai 1 Agustus, Naik Kopaja AC dari Halte Transjakarta Bayar "Double"

Pihak pengelola Transjakarta memutuskan, mulai 1 Agustus 2014 tak akan lagi menyediakan tiket angkutan umum terintegrasi busway, seperti Kopaja AC, Kopami, APTB dan BKTB, di Halte Transjakarta. Dengan demikian, tak ada lagi integrasi tiket antara Transjakarta dengan angkutan-angkutan tersebut.

Menurut Direktur Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Yoga Adiwinarto, adanya peraturan tersebut akan membuat para pengguna Kopaja AC, Kopami, APTB, dan BKTB harus membayar biaya "double" bila ingin melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta. Hal itu berbeda dari penerapan selama ini di mana para penumpang Kopaja, Kopami, APTB, dan BKTB tidak perlu lagi membayar biaya jika ingin melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta.

"Jadi kalau mau naik Kopaja AC dari halte transjakarta harus bayar double. Bayar tiket busway dulu Rp 3.500. Terus bayar Kopaja AC-nya Rp 5.000. Totalnya jadi Rp 8.500," kata Yoga kepada Kompas.com, Kamis (17/7/2014).

Pengumuman mengenai perubahan ketentuan ini sudah dipasang di sejumlah halte Transjakarta. Yoga memprediksi, aturan tersebut akan berpotensi membuat jumlah pengguna Kopaja, Kopami, APTB, dan BKTB menurun, karena selama ini para penggunanya merupakan pengguna Transjakarta.

"Kalau harus bayar double bakalan sepi Kopaja AC sama APTB," ujarnya.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi dari pihak Transjakarta terkait perubahan ketentuan ini. Namun, beberapa hari lalu, Direktur Utama PT Transjakarta Antonius NS Kosasih mengatakan bahwa mulai pertengahan Agustus, pihak Transjakarta tidak akan lagi menjual tiket kertas. Penumpang diminta untuk segera memiliki tiket elektronik produk perbankan dari beberapa bank, seperti Flazz (BCA); e-money (Mandiri); Brizzi (BRI); Tap Cash (BNI); Mega Card (Bank Mega); dan Jak Card (Bank DKI).

Rabu, 08 Januari 2014

Awal Februari, 346 Bus Sedang Beroperasi di Jalur "Busway"

Pada awal Februari mendatang, warga Jakarta dapat menikmati angkutan umum yang lebih ramah lingkungan, nyaman dan aman. Angkutan umum tersebut berupa Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB).

Sebanyak 346 BKTB atau bus sedang baru akan beroperasi melayani warga menggantikan kopaja yang sudah tidak layak jalan lagi.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan BKTB ini akan menjadi feeder bagi bus Transjakarta sehingga bus sedang ini akan beroperasi di jalur khusus busway.

“BKTB ini menggantikan kopaja yang sudah tidak beroperasi lagi pada sejumlah rute. Bus-bus ini akan menghidupkan kembali rute yang sudah tidak dilewati kopaja lagi. Sama seperti Kopaja AC, BKTB diperbolehkan melintas di jalur busway,” kata Pristono, Rabu (8/1).

Ratusan bus tersebut, lanjutnya, akan melayani warga dari domisili mereka ke sejumlah rute yang dilalui oleh bus Transjakarta. Dengan begitu, warga bisa melanjutkan perjalanannya menggunakan bus Transjakarta. Terintegrasinya layanan transportasi ini akan membuat warga tidak lagi menikmati kemacetan di jalan.

Menurutnya, bus-bus baru tersebut sudah tiba di Jakarta. Saat ini sedang dalam proses penyelesaian administrasi. Bus baru itu tegas dia, belum bisa dioperasikan seluruhnya karena Dinas Perhubungan harus merekrut sopir BKTB. Lalu memberikan pelatihan bagi mereka agar dapat mengemudikan BKTB di jalur bus Transjakarta. “BKTB akan dioperasikan secara bertahap,” ujarnya

Jumat, 16 Agustus 2013

Konsep Feeder Bus Transjakarta Akan Diubah

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama menilai, feeder bus Transjakarta yang telah beroperasi saat ini ternyata tidak sesuai dengan konsep yang dimiliki  Gubernur DKI, Joko Widodo.

"Ada kesalahan dari feeder bus Transjakarta yang beroperasi saat ini karena menciptakan trayek baru. Saat kami masuk, Pak Gubernur punya konsep berbeda," ujar Basuki T Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta di Balaikota, Kamis (15/8).

Dikatakan Basuki, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menghendaki feeder bus Transjakarta adalah bus yang telah memiliki trayek. "Sementara feeder bus Transjakarta dengan armada besar yang ada saat ini menyinggung trayek sejumlah bus lain sehingga sepi penumpang," katanya.

Namun, diakui Basuki, hanya bus Kopaja saja yang memenuhi harapan Jokowi sebagai feeder bus Transjakarta. "Yang berhasil dan mau  masuk kan cuma Kopaja. Manajemen lebih baik. Sedangkan Metromini kacau balau,"ucap mantan Bupati Belitung Timur.

Untuk itu, ditambahkan Basuki, Pemprov DKI berencana menambah feeder bus Transjakarta dengan menggandeng PPD dengan sasaran bus sedang sebagai moda transportasi umum yang telah ada.

"Itu yang mau kita tambah dengan PPD. Kita mau feeder dari rute bus yang sudah ada. Kita mesti ambil trayek yang sudah ada," tandasnya.

Senin, 10 Juni 2013

Kopaja AC, "Feeder" atau Pesaing Transjakarta?

Bus kopaja AC S602 diluncurkan untuk menjadi penghubung (feeder) pendukung bus transjakarta. Namun, rute bus ini yang sepenuhnya menggunakan jalur khusus untuk transjakarta, mengundang pertanyaan atas fungsinya sebagai feeder tersebut. Penyusunan ulang rute bus di Jakarta dinilai mendesak dilakukan, untuk mengoptimalkan sarana transportasi massal ini.

"Sebaiknya dilakukan penyusunan ulang rute angkutan umum, baru kemudian nanti dikategorikan lagi mana yang di rute utama dan mana yang feeder," kata pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, Minggu (9/6/2013). Fungsi feeder seharusnya adalah pengangkut penumpang dari permukiman untuk terhubung ke jalur utama yang dilayani angkutan utama seperti desain bus transjakarta.

Karenanya, keberadaan angkutan umum "berstatus" feeder, tetapi menggunakan sepenuhnya jalur bus transjakarta, tidak tepat dan hanya memunculkan tumpang tindih. "Kita (masih) tidak bisa buat rute feeder yang baik," kata Danang.

Selain itu, Danang juga mengkritisi sistem setoran dalam operasional kopaja AC. Menurut dia, sistem setoran itulah yang membuat sebagian sopir bus tersebut membandel dengan keluar jalur khusus bus transjakarta untuk mendapatkan penumpang.

Danang berpendapat, bila kopaja ini dirancang menjadi pendukung bus transjakarta, maka sistem yang digunakan pun tak bisa lagi berbasis setoran. Seharusnya, ujar dia, sistem yang digunakan pun sama dengan bus transjakarta yang menerapkan penggajian berbasis jarak tempuh, untuk para jurumudi.
"Ini sebenarnya terkait sistem kontrak. Saya lihat kontraknya belum kontrak berdasarkan kilometer jarak tempuh (gaji), jadi hanya mengandalkan penghasilan dari penumpang (setoran). Kalau sudah sistem killometer itu tidak akan terjadi,"  papar Danang.

Rute Kopaja AC S602 (Ragunan-Monas) diluncurkan pada Rabu (5/6/2013) lalu di Terminal Ragunan. Untuk rute, bus akan berangkat dari Terminal Ragunan hingga perempatan Kuningan. Di ruas jalan ini bus akan melalui jalur Koridor VI (Kuningan-Dukuh Atas) transjakarta.

Kemudian dari perempatan Kuningan, bus akan belok kiri melewati jalan Gatot Subroto menuju ke arah Semanggi. Di rute ini bus akan melewati jalur Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) transjakarta. Setelah melewati halte Semanggi, bus akan memutar bundaran dan kemudian akan menyusuri Jalan Sudirman dan Thamrin sampai akhirnya tiba di Monas. Pada rute Sudirman-Thamrin, Kopaja AC S602 melintasi jalur Koridor I (Blok M-Kota) transjakarta.

Saat peluncuran, Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki mengatakan alasan dipilihnya jalur Ragunan-Monas karena di jalur tersebut melayani dua ikon wisata Ibu Kota. Selain itu, di sepanjang jalur tersebut juga terdapat banyak kawasan perkantoran. Tujuannya, sebut dia, adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi pada jalur tersebut.

Sabtu, 25 Mei 2013

Sepi Penumpang, Kopaja AC S-13 Tak Masuk Busway


Mobil bus Kopaja AC S-13 jurusan Ragunan-Grogol yang semestinya terintegrasi dengan jalur busway kerap melenceng dari jalurnya. Kopaja itu seharusnya masuk jalur Transjakarta di koridor I di Senayan hingga Semanggi, lalu berpindah jalur ke Koridor XI dari Semanggi-Grogol dan di Koridor III dari Kebayoran-Pondok Indah. Akan tetapi, bus kerap tak berhenti di jalur busway.

Hal ini membuat penumpang bingung. "Ternyata waktu saya naik busnya tidak berhenti di shelter JCC. Saya malah diturunkan di tengah jalan, bukan di tempat perhentian," kata Satwika, 25 tahun, warga Jakarta Pusat yang berkantor di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, kepada Tempo, Sabtu, 25 Mei 2013.

Saat Tempo mencoba naik Kopaja S-13, bus sedang itu juga tak berhenti di shelter busway di sepanjang Slipi dan Jalan S. Parman. Begitu juga di sepanjang arteri Pondok Indah.

Ketua Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) Nanang Basuki mengakui Kopaja S-13 kerap keluar jalur Transjakarta. Alasannya, di jalur tersebut seringkali sepi penumpang, terutama dari Slipi menuju Grogol. "Jadi, memang sopir lebih memilih mencari penumpang di luar jalur busway," kata Nanang.

Menurut Nanang, animo penumpang itu dipengaruhi oleh banyaknya angkutan yang melintas di sepanjang Slipi menuju Grogol. "Jadi, lebih banyak penumpang yang menunggu di luar jalur Transjakarta."

Namun, dia menjamin penumpang yang telanjur membeli karcis Kopaja AC di dalam shelter Transjakarta tak perlu khawatir. "Disimpan saja tiketnya ketika naik Transjakarta. Besok bisa digunakan lagi untuk naik Kopaja," kata Nanang.

Kasus ini, menurut Nanang, tak terjadi di trayek Kopaja AC P-20 jurusan Senen-Lebak Bulus. Soalnya, penumpang di trayek itu jauh lebih banyak. Kopaja malah sudah menambah armada P-20 AC. "Sudah ditambah menjadi 40 bus. Kalau S-13 tidak ditambah karena penumpangnya sedikit," ujar Nanang.