Kamis, 18 Desember 2014

Jalan Layang Transjakarta Dibangun April 2015

Pembangunan jalan layang untuk Transjakarta koridor XIII (Ciledug - Blok M) siap dimulai pengerjaan fisiknya pada April 2015. Saat ini, proses lelang telah rampung dan akan dibagi menjadi delapan paket pengerjaan. Di koridor ini nantinya akan dilengkapi 12 halte.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Agus Priyono mengatakan, pemenang tender tidak bisa langsung mengerjakan pembangunan lantaran sistem yang digunakan saat ini yakni rancang bangun. Di mana pemenang tender harus terlebih dulu membuat desain terhadap jalan yang akan dibangun.

"Sekarang sedang dilakukan rancang desain, butuh tiga bulan. Kira-kira April 2015 baru bisa groundbreaking," ujar Agus Priyono, Kamis (18/12).

Adapun jalan layang yang akan dibangun di koridor ini hanya sepanjang 9,4 kilometer dari Ciledug hingga Jl Pierre Tendean. Jalan layang akan dibuat dengan lebar 9 meter dan tinggi 12-20 meter. Sedangkan sisanya, akan menggunakan jalan eksisting.

Jalan layang tersebut nantinya akan melewati sembilan halte yakni, Halte Universitas Budiluhur, JORR W2, Swadarma, Cipulir, Seskoal, Carrefour, Kebayoran Lama, Taman Puring, Stasiun MRT, Tirtayasa, Rawa Barat dan Halte Trans TV.

Nantinya, kata Agus, jalan layang hanya diperuntukan bagi bus Transjakarta. Namun, jika diperlukan untuk penambahan rasio jalan, konstruksi sudah dirancang untuk dapat dilebarkan.

"Dulu memang muncul polemik, khusus bus Transjakarta atau mix dengan kendaraan lain non bus Transjakarta. Akhirnya kami ambil keputusan khusus bus Transjakarta," ucapnya.

Adapun anggaran pembangunan jalan layang bus Transjakarta ini mencapai Rp 2,5 triliun dengan rincian, Rp 200 miliar digunakan untuk konsultan perencanaan, desain awal, serta konsultan manajemen. Sedangkan untuk pembangunan fisik sebesar Rp 2,3 triliun. Anggaran yang digunakan adalah tahun jamak atau multiyears. "Ditargetkan bisa beroperasi pada 2016 mendatang," tandasnya.

Ahok: Nantinya Bus Tingkat Tidak Gratis Lagi

Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan bus tingkat gratis dalam pelaksanaan uji coba pembatasan kendaraan roda dua tidak akan diberlakukan kembali. Namun, ada suatu sistem baru yang memaksa para pengendara sepeda motor yang memarkirkan kendaraanya untuk menggunakan pembayaran elektronik (e-Money) saat menggunakan bus itu.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, evaluasi yang akan dilakukan oleh Pemprov DKI dalam pelaksanaan pelarangan kendaraan roda dua adalah penerapan tiket pembayaran parkir. Sehingga, para pengguna kendaraan sepeda motor hanya membayar satu kali dalam memarkirkan kendaraanya.

"Kami lagi berpikir bagaimana tempat parkir itu hanya bayar sejam, berlaku seharian. Tapi, kalau itu kan bisa jadi orang cuma markir doang, enggak naik bus juga. Makanya nanti bus-bus itu pun tidak akan ada yang gratis, kami harus pakai e-Money," kata Ahok di Balai Kota DKI, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2014).

Sehingga, dalam menggunakan bus itu, kata Mantan Bupati Belitung Timur itu, harus tetap menggunakan sistem tap (menempelkan kartu di mesin). Walaupun, saat para pengendara menggunakan bus itu tidak bayar karena sudah diwakili melalui pembayaran parkir.
"Yang naik bus itu walaupun tidak bayar, dia mesti tap. Sehingga nanti dihubungkan dengan tempat parkir. Orang yang punya karcis langganan naik Transjakarta, itu bisa bayar parkirnya murah," kata Ahok.

Ayah dari tiga orang anak itu, mengaku sistem itu akan dilakukan pada Januari 2015 ini. Hal ini dilakukan karena pengadaan ratusan bus Transjakarta akan hadir pada awal tahun 2015 oleh PT Transportasi Jakarta. Saat ini, pihaknya akan mendengarkan segala masukan dari masyarakat terkait penerapan pembatasan kendaraan roda dua di Jalan MH Thamrin sampai Jalan Medan Merdeka Barat itu.

Menurut Ahok, kebijakan itu membuat masyarakat Jakarta marah baik melalui media sosial atau di lapangan. "Tapi prinsipnya itu, misalnya parkir sejam 2.000, ya mungkin bayar sejam aja, tapi syaratnya kamu harus punya knarcis bus langganan, transjakarta. karena yang bus tingkat kan dioperasikan oleh Transjakarta juga," kata Ahok.

Namun, masyarakat harus membeli kartu untuk menaiki bus Transjakarta. Selain itu, pihaknya akan berkomunikasi dengan para pengelola gedung di sepanjang jalan pembatasan kendaraan sepeda motor. Menurutnya, dia hanya ingin merubah perilaku masyarakat pengguna sepeda motor untuk menggunakan moda transportasi massal itu.

"Kamu beli sebulan. sama kayak Transjakarta kami mulai ikat pelan-pelan nih. Kamu mesti beli karcisnya Rp 40.000, supaya sayang kalo kamu enggak naik. Transjakarta nanti kami perluas, sama semua juga nanti kami bayar Rp per Kilometer," kata Ahok.