Selasa, 14 Maret 2017

Kereta Bandara Ditargetkan Angkut 33 Ribu Penumpang

Kementerian Perhubungan menargetkan kereta bandara Soekarno-Hatta yang sedang dibangun saat ini dapat mengangkut 33 ribu penumpang setiap harinya. Hal ini diharapkan bisa mengurangi jumlah pengguna kendaraan pribadi.

"Ini direncanakan akan bisa mengangkut 33 ribu penumpang per hari. Itu 20 persen dari penumpang (sehari-hari Soekarno Hatta- Jakarta). Kami akan bicarakan lagi sehingga banyak yang bisa ditampung dari kereta bandara ini," kata Menteri Budi Karya Sumadi saat ditemui usai meninjau pembangunan jaringan stasiun kereta Bandara di Jakarta, Minggu 12 Maret 2017.

Saat ini, pembangunan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta masih berjalan. Stasiun ini nantinya akan terintegerasi dengan sejumlah stasiun lain. Mulai dari Stasiun Sudirman Baru, Stasiun Duri Kepa, dan Stasiun Batu Ceper. Adapun pembangunannya, saat ini telah mencapai 60 persen.

Stasiun bandara ini nantinya juga akan terhubung dengan Terminal 3 Ultimate dan Terminal 2 di Bandara Soekarno-Hatta. "Juni sudah akan selesai di jalur 1 antara terminal 3 dan terminal 2‎. Akan selesai semuanya di September," kata Budi.

Adanya kereta bandara, diharapkan menjadi pendorong bagi masyarakat untuk menggunakan moda transportasi umum untuk menuju ke Soekarno-Hatta. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, mengatakan masih ingin meningkatkan lagi kapasitas kereta ini.

"Kami akan mencoba jika masyarakat lebih memilih memakai kereta api untuk menuju bandara, kami tingkatkan kapasitas lebih dari 20 persen," kata Rini yang ikut meninjau pembangunan bersama Budi.

Stasiun kereta bandara Soekarno-Hatta akan dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti konter tiket, ruang publik, gerbang masuk elektronik, ruang tunggu, ruang komersial, toilet, musala, ruang kepala stasiun, dan stasiun skytrain.

Stasiun kereta bandara ini didesain untuk terkoneksi dengan stasiun Skytrain, moda transportasi antar terminal dengan menggunakan kereta tanpa pengemudi (driverless). Kereta canggih ini berbasis teknologi Automated People Mover System (APMS).

Jumat, 10 Maret 2017

Kalah Bersaing, Pengusaha Angkutan Minta Transjakarta Beli Bus Mereka

Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan para pengusaha angkutan umum saat ini sedang berencana mengajukan permintaan agar PT Transportasi Jakarta bersedia membeli izin trayek dan bus-bus mereka.

Penyebabnya karena pengusaha angkutan umum kalah bersaing dengan layanan bus Transjakarta.

Menurut Shafruhan, semakin banyaknya layanan bus feeder di rute-rute bus kota reguler menyebabkan warga penumpang lebih memilih menggunakan bus Transjakarta.

"Kalau terus menempatkan bus di trayek kami ya sama saja ngebunuh. Mending beli aja izin dan bus kami," kata Shafruhan, saat dihubungi, Kamis (9/3/2017).

Shafruhan menuturkan, permintaan agar PT Transjakarta membeli izin trayek dan bus merupakan satu-satunya opsi yang bisa dilakukan pengusaha angkutan umum. Sebab, jika harus bekerja sama, Shafruhan menyebut para pengusaha tidak memiliki modal untuk meremajakan bus.

Dalam mekanisme kerja sama dengan PT Transjakarta, pengusaha akan dibayar dengan sistem rupiah per kilometer. Dengan catatan, bus yang digunakan memenuhi standar yang ditetapkan, salah satunya bus yang dilengkapi  AC.

"Mau integrasi tidak mungkin dengan kondisi angkutan umum saat ini. Mau diremajakan enggak ada modal. Jadi ya sudah beli saja sekalian daripada mati," ujar Shafruhan.

Shafruhan menyatakan, para pengusaha angkutan umum sebenarnya keberatan dengan  perluasan layanan Transjakarta ke rute-rute bus kota reguler.

"Bukannya membina mengembangkan usaha rakyat, tapi malah membunuh. BUMD itu modalnya dari anggaran rakyat. Kok dibuat untuk bunuh rakyat," kata Shafruhan.

Saat ini, layanan bus Transjakarta memang tidak hanya melayani di koridor busway saja, tapi sudah merambah ke rute-rute angkutan reguler, termasuk rute ke kota-kota penyangga.

Dengan hanya membayar Rp 3.500, penumpang tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan jika berpindah bus. Kondisi itu yang ditengarai menjadi penyebab penumpang kemudian lebih memilih naik bus Transjakarta.