Animo pengguna sepeda di Jakarta meningkat sejak adanya jalur khusus yang sudah dibuat sepanjang 63 kilometer di 17 ruas jalan. Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat, angka pengguna kendaraan ramah lingkungan tersebut hingga 500 persen.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengatakan, pembangunan jalur sepeda efektif memotivasi warga menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.
"Sesudah pembuatan jalur sepeda itu ada peningkatan demand yang signifikan," ujarnya, Jumat (7/2).
Syafrin menjelaskan, berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pesepeda juga menurun sekitar 13 persen sejak adanya fasilitas jalur khusus yang dilengkapi marka.
"Pencapain itu sangat luar biasa. Ke depan, Pemprov DKI juga akan menambah lagi jalur sepeda secara masif. Sehingga, selain angka kecelakaan pengguna sepeda menurun, masyarakat juga akan semakin tergerak menggunakan sepeda untuk mendukung mobilitasnya," tandasnya.
Untuk diketahui, Pemprov DKI Jakarta membangun jalur sepeda Fase Pertama dengan rute Jalan Medan Merdeka Selatan-Jalan MH Thamrin-Jalan Imam Bonjol-Jalan Pangeran Diponegoro-Jalan Proklamasi-Jalan Pramuka-Jalan Pemuda.
Kemudian, untuk Fase Kedua dengan rute Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Sisingamangaraja-Jalan Panglima Polim-Jalan RS Fatmawati. Sementara, Fase Tiga meliputi, Jalan Tomang Raya-Jalan Cideng Timur-Jalan Kebon Sirih-Jalan Matraman Raya-Jalan Jatinegara Barat-JalanJatinegara Timur.
Tampilkan postingan dengan label Jalur Sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalur Sepeda. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 Februari 2020
Sabtu, 30 November 2019
Pangdam dan Kapolda Metro Jaya Dukung Jalur Khusus Sepeda
Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memfasilitasi jalur khusus bagi pesepeda didukung oleh Pandam Jaya dan Kapolda Metro Jaya.
Pangdam Jaya, Mayjen (TNI) Eko Margiyono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta telah membangun jalur sepeda sepanjang 63 kilometer. Tujuannya, untuk mendorong masyarakat agar menggunakan sepeda sebagai kendaraan bebas emisi dalam berkegiatan sehari-hari.
"Saya mengajak warga Jakarta menyukseskan program Jakarta Ramah Sepeda, sehingga bisa menjadi contoh untuk daerah lain. Kami akan ikut menyosialisasikan kebijakan ini," ujarnya, usia mengikuti Olahraga Bersama TNI-Polri dan Forkopimda DKI Jakarta, Sabtu (30/11).
Kapolda Metro Jaya, Irjen (Pol) Gatot Eddy Pramono menambahkan, kendaraan bermotor jumlahnya semakin bertambah di Jakarta. Untuk itu, sepeda bisa menjadi alternatif transportasi dalam berkegiatan, terlebih bersepeda memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
"Motor dan mobil bertambah terus, didasari kegiatan ini, kalau orang merubah bisa menggunakan sepeda kita bisa tertib lalu lintas, dan mengurangi polusi, dan bagus untuk kesehatan kita," ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menuturkan, penggunaan kendaraan bebas emisi seperti, sepeda perlu sosialisasi dan dikampanyekan secara masif.
"Saya menyambut baik dukungan Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya terhadap progam Jakarta Ramah Sepeda. Sepeda itu jangan dipandang sebagai alat olahraga, tapi sebagai alat transportasi," ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan bersepeda bersama ini juga bertujuan untuk meningkatkan sinergitas dan soliditas antar jajaran TNI-Polri dan Forkopimda di Jakarta.
"Melalalui olahraga bersama-sama, kebersamaan kita bukan saja pada saat bekerja tapi kebersamaan dibangun lengkap termasuk dengan berolahraga bersama," tandasnya.
Untuk diketahui, sebanyak 2.845 peserta mengikuti kegiatan fun bike pada acara Olahraga Bersama Forkopimda DKI Jakarta.
Rute yang ditempuh sepanjang 25 kilometer dimulai dari Markas Kodam Jaya, Kramat Jati, Jakarta Timur dan berakhir di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Pangdam Jaya, Mayjen (TNI) Eko Margiyono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta telah membangun jalur sepeda sepanjang 63 kilometer. Tujuannya, untuk mendorong masyarakat agar menggunakan sepeda sebagai kendaraan bebas emisi dalam berkegiatan sehari-hari.
"Saya mengajak warga Jakarta menyukseskan program Jakarta Ramah Sepeda, sehingga bisa menjadi contoh untuk daerah lain. Kami akan ikut menyosialisasikan kebijakan ini," ujarnya, usia mengikuti Olahraga Bersama TNI-Polri dan Forkopimda DKI Jakarta, Sabtu (30/11).
Kapolda Metro Jaya, Irjen (Pol) Gatot Eddy Pramono menambahkan, kendaraan bermotor jumlahnya semakin bertambah di Jakarta. Untuk itu, sepeda bisa menjadi alternatif transportasi dalam berkegiatan, terlebih bersepeda memberikan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
"Motor dan mobil bertambah terus, didasari kegiatan ini, kalau orang merubah bisa menggunakan sepeda kita bisa tertib lalu lintas, dan mengurangi polusi, dan bagus untuk kesehatan kita," ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menuturkan, penggunaan kendaraan bebas emisi seperti, sepeda perlu sosialisasi dan dikampanyekan secara masif.
"Saya menyambut baik dukungan Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya terhadap progam Jakarta Ramah Sepeda. Sepeda itu jangan dipandang sebagai alat olahraga, tapi sebagai alat transportasi," ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan bersepeda bersama ini juga bertujuan untuk meningkatkan sinergitas dan soliditas antar jajaran TNI-Polri dan Forkopimda di Jakarta.
"Melalalui olahraga bersama-sama, kebersamaan kita bukan saja pada saat bekerja tapi kebersamaan dibangun lengkap termasuk dengan berolahraga bersama," tandasnya.
Untuk diketahui, sebanyak 2.845 peserta mengikuti kegiatan fun bike pada acara Olahraga Bersama Forkopimda DKI Jakarta.
Rute yang ditempuh sepanjang 25 kilometer dimulai dari Markas Kodam Jaya, Kramat Jati, Jakarta Timur dan berakhir di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Senin, 25 November 2019
30 Kendaraan Bermotor Masuk Jalur Sepeda di Jakpus Ditindak
Kendaraan bermotor yang masuk jalur sepeda di sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat mulai dilakukan pendindakan. Penindakan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 128 Tahun 2019 tentang Penyediaan Jalur Sepeda yang diterbitkan pada 20 November lalu.
Kepala Suku Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Harlem Simanjuntak mengakan, untuk penindakan dilakukan langsung oleh jajaran kepolisian.
"Kami hanya melakukan sosialisasi, sementara untuk pengenaan sanksi tilang dilakukan oleh polisi," ujarnya, Senin (25/11).
Harlem menjelaskan, di Jakarta Pusat penindakan pelanggar jalur khusus sepeda dilakukan di Jalan Suryo Pranoto, Jalan Cideng, dan Jalan Imam Bonjol.
"Hari ini ada 30 sepeda motor yang terkena sanksi tilang," terangnya.
Ia menambahkan, penjagaan dan penindakan akan dilakukan secara rutin agar jalur sepeda betul-betul steril dari kendaraan lainnya.
"Selain memberikan efek jera, kami ingin agar potensi kecelakaan terhadap pengguna sepeda dapat diminimalisir," tandasnya.
Kepala Suku Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Harlem Simanjuntak mengakan, untuk penindakan dilakukan langsung oleh jajaran kepolisian.
"Kami hanya melakukan sosialisasi, sementara untuk pengenaan sanksi tilang dilakukan oleh polisi," ujarnya, Senin (25/11).
Harlem menjelaskan, di Jakarta Pusat penindakan pelanggar jalur khusus sepeda dilakukan di Jalan Suryo Pranoto, Jalan Cideng, dan Jalan Imam Bonjol.
"Hari ini ada 30 sepeda motor yang terkena sanksi tilang," terangnya.
Ia menambahkan, penjagaan dan penindakan akan dilakukan secara rutin agar jalur sepeda betul-betul steril dari kendaraan lainnya.
"Selain memberikan efek jera, kami ingin agar potensi kecelakaan terhadap pengguna sepeda dapat diminimalisir," tandasnya.
Selasa, 15 Oktober 2019
DPRD Dukung Penambahan Jalur Khusus Sepeda
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta mengukung kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menambah jalur khusus untuk sepeda.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Abdul Ghoni mengatakan, keberadaan jalur sepeda menjadi bagian penting untuk menstimulasi budaya sarana transportasi di era baru dalam mengurangi kemacetan serta meningkatkan kualitas udara
"Kami sangat mengapresiasi penambahan jalur sepeda, khususnya untuk wilayah Jakarta Selatan sebagai sarana transportasi terintegrasi dengan moda transportasi umum lain, termasuk MRT," ujarnya, Selasa (15/10).
Sementara itu, anggota DPRD DKI lainnya, Yuke Yurike menuturkan, sarana dan prasarana penunjang keamanan dan kenyaman bagi pesepeda harus menjadi perhatian.
"Jalur khusus sepeda itu harus dipastikan steril dari pengendara sepeda motor, jangan sampai ada yang menyerobot," terangnya.
Yuke menambahkan, untuk menjadikan sepeda sebagai budaya alternatif dalam mengurangi polusi dan kemacetan, Pemprov DKI Jakarta perlu memfasilitasi berbagai fasilitas pengguna sepeda dan menyelesaikan berbagai infrastruktur terintegrasi.
"Bersepeda ini jangan sekadar jadi hobi, tapi harus bisa menjadi budaya sarana transportasi. Selain keterseadaan fasilitas yang baik, sosialisasi juga pertu terus digencarkan," tandasnya.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Abdul Ghoni mengatakan, keberadaan jalur sepeda menjadi bagian penting untuk menstimulasi budaya sarana transportasi di era baru dalam mengurangi kemacetan serta meningkatkan kualitas udara
"Kami sangat mengapresiasi penambahan jalur sepeda, khususnya untuk wilayah Jakarta Selatan sebagai sarana transportasi terintegrasi dengan moda transportasi umum lain, termasuk MRT," ujarnya, Selasa (15/10).
Sementara itu, anggota DPRD DKI lainnya, Yuke Yurike menuturkan, sarana dan prasarana penunjang keamanan dan kenyaman bagi pesepeda harus menjadi perhatian.
"Jalur khusus sepeda itu harus dipastikan steril dari pengendara sepeda motor, jangan sampai ada yang menyerobot," terangnya.
Yuke menambahkan, untuk menjadikan sepeda sebagai budaya alternatif dalam mengurangi polusi dan kemacetan, Pemprov DKI Jakarta perlu memfasilitasi berbagai fasilitas pengguna sepeda dan menyelesaikan berbagai infrastruktur terintegrasi.
"Bersepeda ini jangan sekadar jadi hobi, tapi harus bisa menjadi budaya sarana transportasi. Selain keterseadaan fasilitas yang baik, sosialisasi juga pertu terus digencarkan," tandasnya.
Jumat, 20 September 2019
Uji Coba Jalur Sepeda, Anies Ingin Jakarta Jadi Pelopor Kota Ramah Bersepeda
Membangun sistem mobilitas perkotaan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan humanis, membuat Pemprov DKI Jakarta terus berinovasi menciptakan fasilitas dan pelayanan sistem angkutan umum serta moda transportasi non-bermotor ramah lingkungan yang aman dan nyaman bagi warganya. Salah satunya adalah mempersiapkan jalur sepeda di sepanjang jalan yang diberlakukan kebijakan Ganjil Genap.
Guna uji coba jalur sepeda tersebut, Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, bersama para jajarannya bersepeda mulai dari Velodrome Jakarta Timur menuju Kantor Balai Kota Pemprov DKI Jakarta, Jumat pagi (20/9). “Kita tadi sama-sama mencoba (jalur sepeda) dan menyenangkan buat saya sendiri ini kembali bersepeda lagi dan sepeda yang saya pakai ini adalah sepeda yang saya pakai kuliah dulu,” ungkap Gubernur Anies sesampainya di Kantor Balai kota , seperti dikutip dari siaran pers PPID Provinsi DKI Jakarta, Jumat (20/9).
Gubernur menjelaskan nantinya Pemprov DKI Jakarta akan melakukan Sosialisasi Uji Coba Desain Jalur Sepeda yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 September 2019. Sementara pelaksanaan uji coba tahap pertama akan dimulai pada tanggal 20 September 2019 hingga 19 November 2019. Area uji coba akan dilaksanakan di rute jaringan jalur sepeda dengan total panjang 63 km dan dibagi dalam 3 fase meliputi wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
“Tapi kita berharap nantinya bukan hanya 63 km ini tetapi seluruh mayoritas tempat di Jakarta bisa ada jalur sepedanya. Fase pertama aspalnya akan diganti, menunggu aspalnya diganti dalam beberapa waktu ini, sesudah itu baru dipasang penandanya supaya tidak kerja dua kali.” papar Gubernur Anies.
Lebih lanjut, Gubernur Anies ingin agar Jakarta menjadi kota pelopor ramah bersepeda dengan adanya jalur-jalur yang disiapkan khusus untuk sepeda. Jika warganya memanfaatkan jalur tersebut untuk bersepeda maka akan berdampak pada perbaikan kualitas lingkungan hidup di Jakarta. “Jadi saya mengajak seluruh warga Jakarta agar kita lihat sepeda bukan sebagai semata alat olahraga tapi alat transportasi, jadi kita siapkan jalurnya untuk pembiasaan lalu dorong lebih banyak yang memanfaatkan sepeda untuk kegiatan sehari-hari. Kita berharap Jakarta menjadi kota pelopor ramah lingkungan termasuk penggunaan sepeda,” pesannya.
Sementara itu Heather Thomson yang merupakan perwakilan The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengapresiasi langkah Pemprov DKI yang menyediakan jalur sepeda sepanjang 63 km itu dan menggaungkan kampanye Friday for Future. “Ini sangat menakjubkan melihat jakarta membuat gerakan di jalur yang benar. Saya pikir jakarta sudah melakukan kerja yang bagus dengan garis pembatas bersepada di mana itu akan melindungi para pesepeda,” tandasnya.
“Uji Coba Desain Jalur Sepeda” merupakan hasil kolaborasi ITDP Indonesia, representasi pesepeda Jakarta, dan dinas-dinas teknis di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan jalur sepeda permanen di akhir tahun 2019 yang dapat dinikmati oleh warga Jakarta. Tiga fase ujicoba ini terdiri dari Fase 1 antara lain Medan Merdeka Selatan - Jalan Pemuda pada 20 September 2019 - 11 Oktober 2019, Fase 2 sepanjang Jalan Jenderal Sudirman - Jalan RS Fatmawati Raya pada 12 Oktober 2019 - 1 November 2019 selanjutnya Fase 3 sepanjang Jalan Tomang-Jatinegara pada 2 November - 19 November 2019.
Guna uji coba jalur sepeda tersebut, Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, bersama para jajarannya bersepeda mulai dari Velodrome Jakarta Timur menuju Kantor Balai Kota Pemprov DKI Jakarta, Jumat pagi (20/9). “Kita tadi sama-sama mencoba (jalur sepeda) dan menyenangkan buat saya sendiri ini kembali bersepeda lagi dan sepeda yang saya pakai ini adalah sepeda yang saya pakai kuliah dulu,” ungkap Gubernur Anies sesampainya di Kantor Balai kota , seperti dikutip dari siaran pers PPID Provinsi DKI Jakarta, Jumat (20/9).
Gubernur menjelaskan nantinya Pemprov DKI Jakarta akan melakukan Sosialisasi Uji Coba Desain Jalur Sepeda yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 September 2019. Sementara pelaksanaan uji coba tahap pertama akan dimulai pada tanggal 20 September 2019 hingga 19 November 2019. Area uji coba akan dilaksanakan di rute jaringan jalur sepeda dengan total panjang 63 km dan dibagi dalam 3 fase meliputi wilayah Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
“Tapi kita berharap nantinya bukan hanya 63 km ini tetapi seluruh mayoritas tempat di Jakarta bisa ada jalur sepedanya. Fase pertama aspalnya akan diganti, menunggu aspalnya diganti dalam beberapa waktu ini, sesudah itu baru dipasang penandanya supaya tidak kerja dua kali.” papar Gubernur Anies.
Lebih lanjut, Gubernur Anies ingin agar Jakarta menjadi kota pelopor ramah bersepeda dengan adanya jalur-jalur yang disiapkan khusus untuk sepeda. Jika warganya memanfaatkan jalur tersebut untuk bersepeda maka akan berdampak pada perbaikan kualitas lingkungan hidup di Jakarta. “Jadi saya mengajak seluruh warga Jakarta agar kita lihat sepeda bukan sebagai semata alat olahraga tapi alat transportasi, jadi kita siapkan jalurnya untuk pembiasaan lalu dorong lebih banyak yang memanfaatkan sepeda untuk kegiatan sehari-hari. Kita berharap Jakarta menjadi kota pelopor ramah lingkungan termasuk penggunaan sepeda,” pesannya.
Sementara itu Heather Thomson yang merupakan perwakilan The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengapresiasi langkah Pemprov DKI yang menyediakan jalur sepeda sepanjang 63 km itu dan menggaungkan kampanye Friday for Future. “Ini sangat menakjubkan melihat jakarta membuat gerakan di jalur yang benar. Saya pikir jakarta sudah melakukan kerja yang bagus dengan garis pembatas bersepada di mana itu akan melindungi para pesepeda,” tandasnya.
“Uji Coba Desain Jalur Sepeda” merupakan hasil kolaborasi ITDP Indonesia, representasi pesepeda Jakarta, dan dinas-dinas teknis di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan jalur sepeda permanen di akhir tahun 2019 yang dapat dinikmati oleh warga Jakarta. Tiga fase ujicoba ini terdiri dari Fase 1 antara lain Medan Merdeka Selatan - Jalan Pemuda pada 20 September 2019 - 11 Oktober 2019, Fase 2 sepanjang Jalan Jenderal Sudirman - Jalan RS Fatmawati Raya pada 12 Oktober 2019 - 1 November 2019 selanjutnya Fase 3 sepanjang Jalan Tomang-Jatinegara pada 2 November - 19 November 2019.
Gubernur DKI Berdialog dengan Komunitas Pesepeda
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyempatkan diri berdialog dengan warga yang tergabung dalam komunitas pesepeda di Pendopo Balai Kota, usai bersepeda sejauh 16 kilometer dari Veledrome, Rawamangun, Jumat (20/9).
Dalam dialog itu, berbagai aspirasi disuarakan pecinta sepeda seputar penyediaan prasarana dan sarana pendukung dalam upaya penyediaan jalur sepeda di ruas jalan Ibukota.
Menanggapi aspirasi itu, Anies mengatakan, pihaknya memulai penyediaan jalur sepeda yang terbagi menjadi tiga fase dengan total sepanjang 65 kilometer. Fase pertama sepanjang 25 kilometer yang diutamakan di sepanjang jalan yang terkena kebijakan ganjil genap (gage).
"Tadi pagi, dari Velodrome Rawamangun hingga ke Balai Kota, kami menyediakan infrastruktur berupa jalur sepeda dan pembatas sehingga pesepeda terlindungi. Namun, sejumlah ruas sepanjang fase pertama belum terpasang marka karena perbaikan aspal. Setelah rampung akan dipasang marka jalan," ujar Anies.
Ia berharap mayoritas jalan di Ibukota nantinya tersedia jalur sepeda. Namun, sebagian ruas jalan lebar akan diberikan pembatas, tapi jalan yang tidak lebar akan dipasang marka saja.
"Jadi, akan ada variasi dalam format jalan bagi jalur sepeda," paparnya.
Anies juga menceritakan pengalaman menyenangkan saat bersepeda dari Velodrome Rawamangun menuju Balaikota DKI dengan sepeda yang dipakai saat berkuliah. Menurutnya, naik sepeda dari Velodrome menuju Balaikota sepanjang 16 kilometer ternyata lebih cepat dibandingkan naik mobil.
"Menyenangkan karena sudah lama tidak bersepeda. Kita nanti menggunakan sepeda lebih banyak untuk kegiatan lingkungan," paparnya.
Gubernur juga mengajak warga Ibukota menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, bukan olahraga semata yang membutuhkan sepatu, pakaian dan kacamata khusus.
"Yang terpenting tersedia sepeda dan pelindung kepala, lalu jalan. Jadi kalau mau ke tempat yang dekat rumah dan mudah dijangkau cukup naik sepeda," tuturnya.
Ia menegaskan, Pemprov DKI Jakarta saat ini gencar mensosialisasikan naik sepeda dan menyediakan prasarana dan sarana pendukung.
"Jangka panjang, akan diberlakukan sanksi bagi kendaraan bermotor yang menggunakan jalur sepeda di jalan Ibukota," tegasnya.
Sementara Tedy, salah seorang anggota komunitas Gowes Sepeda ke Kantor (Gontor), berharap jalur sepeda di ruas jalan Ibukota diperbanyak di masa mendatang. Dia mengaku, setiap hari bersepeda dari kediamannya di Kelapa Dua, Depok menuju kantor di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
"Sekarang ini sepanjang jalur yang dilalui belum tersedia jalur sepeda jadi masih sama dengan kendaraan bermotor. Ya mudah mudahan jalur sepeda tersedia sehingga pesepeda aman di jalan," tandasnya.
Dalam dialog itu, berbagai aspirasi disuarakan pecinta sepeda seputar penyediaan prasarana dan sarana pendukung dalam upaya penyediaan jalur sepeda di ruas jalan Ibukota.
Menanggapi aspirasi itu, Anies mengatakan, pihaknya memulai penyediaan jalur sepeda yang terbagi menjadi tiga fase dengan total sepanjang 65 kilometer. Fase pertama sepanjang 25 kilometer yang diutamakan di sepanjang jalan yang terkena kebijakan ganjil genap (gage).
"Tadi pagi, dari Velodrome Rawamangun hingga ke Balai Kota, kami menyediakan infrastruktur berupa jalur sepeda dan pembatas sehingga pesepeda terlindungi. Namun, sejumlah ruas sepanjang fase pertama belum terpasang marka karena perbaikan aspal. Setelah rampung akan dipasang marka jalan," ujar Anies.
Ia berharap mayoritas jalan di Ibukota nantinya tersedia jalur sepeda. Namun, sebagian ruas jalan lebar akan diberikan pembatas, tapi jalan yang tidak lebar akan dipasang marka saja.
"Jadi, akan ada variasi dalam format jalan bagi jalur sepeda," paparnya.
Anies juga menceritakan pengalaman menyenangkan saat bersepeda dari Velodrome Rawamangun menuju Balaikota DKI dengan sepeda yang dipakai saat berkuliah. Menurutnya, naik sepeda dari Velodrome menuju Balaikota sepanjang 16 kilometer ternyata lebih cepat dibandingkan naik mobil.
"Menyenangkan karena sudah lama tidak bersepeda. Kita nanti menggunakan sepeda lebih banyak untuk kegiatan lingkungan," paparnya.
Gubernur juga mengajak warga Ibukota menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, bukan olahraga semata yang membutuhkan sepatu, pakaian dan kacamata khusus.
"Yang terpenting tersedia sepeda dan pelindung kepala, lalu jalan. Jadi kalau mau ke tempat yang dekat rumah dan mudah dijangkau cukup naik sepeda," tuturnya.
Ia menegaskan, Pemprov DKI Jakarta saat ini gencar mensosialisasikan naik sepeda dan menyediakan prasarana dan sarana pendukung.
"Jangka panjang, akan diberlakukan sanksi bagi kendaraan bermotor yang menggunakan jalur sepeda di jalan Ibukota," tegasnya.
Sementara Tedy, salah seorang anggota komunitas Gowes Sepeda ke Kantor (Gontor), berharap jalur sepeda di ruas jalan Ibukota diperbanyak di masa mendatang. Dia mengaku, setiap hari bersepeda dari kediamannya di Kelapa Dua, Depok menuju kantor di bilangan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
"Sekarang ini sepanjang jalur yang dilalui belum tersedia jalur sepeda jadi masih sama dengan kendaraan bermotor. Ya mudah mudahan jalur sepeda tersedia sehingga pesepeda aman di jalan," tandasnya.
Rabu, 07 Maret 2018
Wagub Serap Aspirasi Komunitas Sepeda
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menyerap aspirasi dari komunitas sepeda. Tujuannya, untuk mengetahui usulan dan kebutuhan dari mereka yang melakukan rutinasnya dengan bersepeda.
Dikatakan Sandi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta siap bekerjasama dengan komunitas sepeda di Ibukota seperti, Bike to Work, MTB Federal Indonesia, dan Rocketers untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada pesepeda.
"Pemprov DKI berkomitmen memberikan ruang yang lebih ramah kepada pesepeda," kata Sandi usai melakukan audiensi bertajuk "Jakarta Sahabat Sepeda", di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (7/3).
Menurutnya, komunitas pesepeda menyampaikan evaluasi terkait jalur sepeda yang sudah ada. Usulan ini nantinya akan diakomodir oleh Pemprov DKI, termasuk untuk meminta pengelola gedung agar menyiapkan fasilitas yang baik bagi pesepeda.
"Kita akan mengingatkan pemilik gedung untuk menyediakan kamar ganti dan kamar mandi, serta area parkir sepeda yang aman," terangnya.
Sandi menambahkan, dirinya menyambut baik keinginan dari komunitas sepeda untuk menggelorakan kegiatan bersepeda setiap hari Jumat.
"Kita ingin mendorong lebih banyak lagi masyarakat untuk bersepeda," tandasnya.
Dikatakan Sandi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta siap bekerjasama dengan komunitas sepeda di Ibukota seperti, Bike to Work, MTB Federal Indonesia, dan Rocketers untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada pesepeda.
"Pemprov DKI berkomitmen memberikan ruang yang lebih ramah kepada pesepeda," kata Sandi usai melakukan audiensi bertajuk "Jakarta Sahabat Sepeda", di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (7/3).
Menurutnya, komunitas pesepeda menyampaikan evaluasi terkait jalur sepeda yang sudah ada. Usulan ini nantinya akan diakomodir oleh Pemprov DKI, termasuk untuk meminta pengelola gedung agar menyiapkan fasilitas yang baik bagi pesepeda.
"Kita akan mengingatkan pemilik gedung untuk menyediakan kamar ganti dan kamar mandi, serta area parkir sepeda yang aman," terangnya.
Sandi menambahkan, dirinya menyambut baik keinginan dari komunitas sepeda untuk menggelorakan kegiatan bersepeda setiap hari Jumat.
Minggu, 12 Februari 2017
Trotoar di Jl Daan Mogot Dilengkapi Jalur Sepeda
Pembangunan trotoar di Jalan Daan Mogot KM 13, tepatnya dari arah Grogol menuju Kalideres, Jakarta Barat tidak hanya dilengkapi fasilitas untuk para penyandang disabilitas, tapi juga jalur bagi peseda.
Kepala Seksi Kelengkapan Prasarana Jalan dan Jaringan Utilitas, Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat, Untung Pitoyo mengatakan, pembangunan jalur sepeda dilakukan karena lahan di trotoar tersebut masih cukup luas. Selain itu aktivitas warga di sekitar trotoar sangat tinggi, khususnya anak-anak sekolah.
"Di Jakarta Barat, ini trotoar pertama yang dilengkapi jalur sepeda," katanya, Minggu (12/2).
Ia menjelaskan, di trotoar ini, jalur sepeda dibangun dengan lebar 1,5 meter, panjang 800 meter dan dicat dengan warna hijau. Hal tersebut untuk membedakan akses bagi pejalan kaki dan peseda.
"Lalu lintas di sini cukup padat. Sekarang sepeda bisa punya jalur sendiri agar penggunanya lebih nyaman," tandasnya.
Kepala Seksi Kelengkapan Prasarana Jalan dan Jaringan Utilitas, Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat, Untung Pitoyo mengatakan, pembangunan jalur sepeda dilakukan karena lahan di trotoar tersebut masih cukup luas. Selain itu aktivitas warga di sekitar trotoar sangat tinggi, khususnya anak-anak sekolah.
"Di Jakarta Barat, ini trotoar pertama yang dilengkapi jalur sepeda," katanya, Minggu (12/2).
Ia menjelaskan, di trotoar ini, jalur sepeda dibangun dengan lebar 1,5 meter, panjang 800 meter dan dicat dengan warna hijau. Hal tersebut untuk membedakan akses bagi pejalan kaki dan peseda.
"Lalu lintas di sini cukup padat. Sekarang sepeda bisa punya jalur sendiri agar penggunanya lebih nyaman," tandasnya.
Sabtu, 23 November 2013
Konsep Baru Bersepeda di Jakarta Ditawarkan ke Jokowi-Basuki
Konsep baru dalam bersepeda di DKI Jakarta ditawarkan oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Konsep dengan label populer "Bike Sharing" tersebut menawarkan aktivitas bersepeda yang tak hanya dilakukan masyarakat setiap akhir pekan, tetapi setiap hari, khususnya untuk menempuh jalur dekat.
Secara umum, Direktur ITDP Yoga Adiwinarto menjelaskan, konsep Bike Sharing mirip layaknya rental sepeda, di mana siapa pun dapat menyewa sepeda untuk rute tertentu dan waktu tertentu. Hanya saja, manajemen Bike Sharing lebih profesional dan modern.
"Teknisnya, di tiap dekat halte transportasi umum ada terminal-terminal sepeda. Minimal, di dalam satu terminal itu ada 20 unit sepeda yang masyarakat umum bisa menyewa," ujar Yoga melalui siaran persnya ke wartawan, Jumat (22/11/2013).
Untuk menyewa sepeda tersebut, pihak pengelola menjual satu kartu semacam e-ticketing yang berisi data identitas dan saldo dalam jumlah tertentu dari sang pemegang kartu. Ketika warga ingin menyewa sepeda, dia tinggal menempelkan kartu tersebut ke alat pemindai di terminal sepeda. Otomatis, kunci pengaman sepeda pun terlepas dan masyarakat dapat menggunakannya.
Agar teratur, lanjut Yoga, di terminal sepeda tersebut pun akan terpampang rute sepeda. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi pusing-pusing mencari rute yang tepat untuk dilalui.
"Rencananya, bahkan kartu e-ticketing penyewaan sepeda itu juga terintegrasi dengan transjakarta dan yang lainnya," ujarnya.
Yoga menilai, konsep tersebut cocok diterapkan di DKI Jakarta. Selain lantaran arus lalu lintas cenderung parah karena macet, mobilitas warganya sangat tinggi. Oleh sebab itu, konsep ini pun sangat cocok diterapkan di kawasan perkantoran di mana para pekerja dapat menggunakannya untuk makan siang atau rapat di gedung yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja sendiri.
"Investasi konsep ini pun jauh lebih murah daripada pengadaan bus. Untuk 2.000 sepeda dan 100 terminal lengkap dengan alat dan jalurnya, hanya sekitar Rp 40,296 miliar," lanjutnya.
Yoga menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemaparan konsep tersebut ke Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ia mengatakan, sang Wagub mengapresiasi positif konsep itu. Di depan ITDP, Basuki berjanji akan membicarakan konsep itu ke Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah DKI Jakarta.
Secara umum, Direktur ITDP Yoga Adiwinarto menjelaskan, konsep Bike Sharing mirip layaknya rental sepeda, di mana siapa pun dapat menyewa sepeda untuk rute tertentu dan waktu tertentu. Hanya saja, manajemen Bike Sharing lebih profesional dan modern.
"Teknisnya, di tiap dekat halte transportasi umum ada terminal-terminal sepeda. Minimal, di dalam satu terminal itu ada 20 unit sepeda yang masyarakat umum bisa menyewa," ujar Yoga melalui siaran persnya ke wartawan, Jumat (22/11/2013).
Untuk menyewa sepeda tersebut, pihak pengelola menjual satu kartu semacam e-ticketing yang berisi data identitas dan saldo dalam jumlah tertentu dari sang pemegang kartu. Ketika warga ingin menyewa sepeda, dia tinggal menempelkan kartu tersebut ke alat pemindai di terminal sepeda. Otomatis, kunci pengaman sepeda pun terlepas dan masyarakat dapat menggunakannya.
Agar teratur, lanjut Yoga, di terminal sepeda tersebut pun akan terpampang rute sepeda. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi pusing-pusing mencari rute yang tepat untuk dilalui.
"Rencananya, bahkan kartu e-ticketing penyewaan sepeda itu juga terintegrasi dengan transjakarta dan yang lainnya," ujarnya.
Yoga menilai, konsep tersebut cocok diterapkan di DKI Jakarta. Selain lantaran arus lalu lintas cenderung parah karena macet, mobilitas warganya sangat tinggi. Oleh sebab itu, konsep ini pun sangat cocok diterapkan di kawasan perkantoran di mana para pekerja dapat menggunakannya untuk makan siang atau rapat di gedung yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja sendiri.
"Investasi konsep ini pun jauh lebih murah daripada pengadaan bus. Untuk 2.000 sepeda dan 100 terminal lengkap dengan alat dan jalurnya, hanya sekitar Rp 40,296 miliar," lanjutnya.
Yoga menjelaskan, pihaknya telah melakukan pemaparan konsep tersebut ke Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ia mengatakan, sang Wagub mengapresiasi positif konsep itu. Di depan ITDP, Basuki berjanji akan membicarakan konsep itu ke Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah DKI Jakarta.
[Kompas]
Langganan:
Postingan (Atom)
