Tampilkan postingan dengan label Difabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Difabel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2020

Transjakarta Terus Perbaiki Sarana dan Prasarana untuk Penyandang Disabilitas

PT Transjakarta terus memperbaiki sarana dan prasarana bagi penyandang disabilitas.

Plt Kepala Divisi Integrasi Angkutan PT Transjakarta, Bano Yogaswara mengatakan, hingga kini pihaknya terus mengejar agar semua halte memiliki asesibilitas yang baik bagi penyandang disabilitas.

"Dari 240 halte Transjakarta, baru 67 halte yang ramah disabilitas. Kami terus kejar secara bertahap agar semua halte ramah disabilitas," ujar Bano, saat Focus Group Discussion (FGD) Inventarisasi Kebutuhan Transportasi Kaum Disabilitas yang diselenggarakan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) secara daring, Rabu (26/8).

Dikatakan Bano, pihaknya telah melengkapi layanan untuk disabilitas dengan stiker rute, pengumuman via suara (voice announcer), kursi prioritas hingga desain bus metrotrans low deck sebanyak 289 unit.

Bahkan saat ini Transjakarta memiliki layanan khusus bagi penyandang disabilitas dengan nama TJ Cares. Layanan ini terdapat 26 armada yang dapat diakses dengan cara memesan terlebih dahulu sehari sebelumnya. Sepanjang tahun 2019 setidaknya sudah 51 ribu pelanggan disabilitas menikmati layanan ini.

Sementara itu, Ketua DTKJ, Harris Muhammadun menambahkan, saat ini pihaknya fokus menyoroti sarana dan prasarana transportasi yang memenuhi standar bagi penyandang disabilitas. Ia mengakui sarana dan prasarana transportasi di DKI Jakarta saat ini sudah jauh lebih baik.

"Kami sedang menghitung dan memperbaharui data tentang berapa persen trotoar, jumlah bus atau kereta api dan halte yang sesuai spesifikasi yang menjadi ekspektasi kaum disabilitas dan mendorong para penyelenggara mewujudkannya sesegera mungkin," tandasnya.

Senin, 22 Juni 2020

Transjakarta Buka Dua Rute Shuttle Bus Gratis di Kota Tua

PT Transjakarta kembali mengoperasikan dua rute layanan gratis shuttle bus dari dan menuju museum di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Kedua rute tersebut yakni, GR 4 (Taman Kota Intan - Museum Bahari) dan GR 5 (Kota Tua Explorer).

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta, Nadia Diposanjoyo mengatakan, rute tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 - 17.00.

"Kami menyiapkan empat unit armada minitrans dengan kapasitas 15 orang per bus dan dua unit metrotrans low entry (pijakan rendah ramah disabilitas) dengan kapasitas 30 orang per bus. Sedangkan waktu keberangkatan 10 sampai 20 menit," ujar Nadia, dalam keterangannya, Senin (22/6).

Dikatakan Nadia, meski gratis, namun warga yang hendak mengakses layanan tersebut tetap harus melakukan tap on bus (TOB) menggunakan kartu uang elektronik keluaran bank-bank terkemuka di Indonesia dengan tarif nol rupiah.

Berikut rute perjalanan layanan gratis shuttle Kota Tua;

Rute Shuttle GR4;

Kota Intan - Museum Bahari 2 - Simpang Pakin 2 - Simpang Pakin 3 - SPBU Gedong Panjang - Gedong Panjang 2 - BRI Jakarta Kota - Simpang Kota Roa Malaka - Jembatan Kota Intan - Kota Intan.

Rute Shuttle GR5;

Kota Intan - Taman Kota Intan - BNI 46 - Glodok Plaza - Kali Besar Barat 1 - Terminal Bayangan Kota Intan.

Transjakarta juga tetap memberlakukan protokol kesehatan yang telah ditetapkan saat masa PSBB transisi. Protokol tersebut melingkupi protokol kesehatan dan keselamatan operasional bagi karyawan dan pelanggan Transjakarta, yang meliputi sanitasi, dan higienitas bus serta halte BRT secara berkala baik sebelum digunakan maupun sesudah digunakan.

"Lalu protokol pemberlakuan perlindungan diri bagi karyawan dan pelanggan dengan wajib masker dan jarak aman dalam mengantri maupun duduk di dalam bus," katanya.

Ia pun mengimbau ada hal-hal yang harus dipatuhi pelanggan saat di halte bus maupun di dalam bus. Pertama, pastikan sahabat tije dalam keadaan sehat dan bugar, dengan suhu tubuh normal. Petugas tidak akan mengizinkan pelanggan dengan suhu tubuh di atas 37 derajat celcius masuk ke dalam bus.

Kedua, barisan jarak antar antrean pelanggan minimal satu lencang tangan orang dewasa atau 1,5 meter.

Ketiga, maksimal kapasitas daya tampung halte adalah 50 persen dari kapasitas harian normal. Apabila daya tampung halte telah penuh, maka halte akan ditutup dan pelanggan mengantre di luar halte. Mengantre di udara terbuka jauh lebih baik daripada berdesak-desakan di dalam halte. Halte akan kembali dibuka apabila kapasitas sudah menurun.

"Keempat gunakan masker setiap saat ketika mulai keluar rumah, di halte maupun di dalam bus. Kelima, tidak berdesak-desakan ketika akan naik ke dalam bus," tandasnya.

Rabu, 31 Oktober 2018

Transjakarta Raih Penghargaan dari Inapgoc

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) meraih penghargaan dari panitia penyelenggara Asian Para Games 2018, Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (Inapgoc).

Penghargaan diberikan langsung oleh Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto kepada Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono.

"Penghargaan ini diberikan atas dukungan dan kontribusi Transjakarta pada pelaksanaan kompetisi olahraga internasional bagi para penyandang disabilitas, yang berlangsung pada 6 Oktober - 13 Oktober 2018," ujar Agung Wicaksono, Direktur Utama PT Transjakarta, Rabu (31/10).

Dijelaskan Agung, selama perhelatan Asian Para Games 2018, pihaknya menyediakan moda transportasi bagi atlet, ofisial, maupun masyarakat yang ingin menonton pertandingan secara gratis.

"Harapannya, penyelenggaraan Asian Para Games 2018 menjadi momentum dalam mendorong gaya hidup bangsa Indonesia agar aktif, dinamis, dan sehat dengan menggunakan moda transportasi umum massal dibandingkan kendaraan pribadi," tandasnya.

Sabtu, 22 September 2018

Asian Para Games, Transjakarta Siapkan Bus Ramah Disabilitas

Turut menyukseskan penyelenggaraan Asian Para Games 2018, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyiapkan 270 layanan bus Transjakarta bagi penyandang disabilitas.

"Bus ini kami persiapkan untuk memudahkan transportasi atlet dan official Asian Para Games menuju venue dan pelanggan Transjakarta yang ingin menonton Asian Para Games," ujar Budi Kaliwono, Direktur Utama PT Transjakarta, Sabtu (22/9).

Dijelaskan Budi, layanan bus low entry tersebut juga dipersiapkan untuk antar jemput penyandang disabilitas menuju venue pertandingan.

"Kami juga akan memberikan layanan antar jemput penyandang disabilitas yang ingin memeriahkan perhelatan Asian Para Games," jelasnya.

Kepala Humas PT Transjakarta, Wibowo, mengatakan bus tersebut memiliki sejumlah keunggulan. Diantaranya, bisa diatur sejajar dengan area pedestrian (trotoar) dan memiliki ramp. Ramp merupakan bidang miring yang di pasang sebagai pengganti tangga.

"Bentuknya landai sehingga memungkinkan penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda lebih mudah terakses masuk ke dalam bus. Bus ini juga dilengkapi alat tap kartu yang dipasang di dalam bus," tandasnya.

Senin, 05 Desember 2016

Hari Disabilitas, Transjakarta Ajak Pelanggan Gantungkan Harapan pada Pohon di Halte

Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap tanggal 3 Desember, Transjakarta mengajak para pelanggan untuk memberikan semangat bagi kerabat mereka. Ucapan itu nantinya digantungkan pada ‘Wishing Tree’ atau pohon harapan yang tersebar di dua halte Transjakarta.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Budi Kaliwono mengungkapkan, tujuan diadakannya kegiatan ini untuk memberikan apresiasi kepada seluruh penyandang disabilitas. Menurut Budi dengan segala keterbatasannya, mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

“Disabilitas bukan penghalang untuk beraktifitas. Mereka berhak melakukan kegiatan dan perlakuan yang sama dengan kita semua. Oleh karena itu, Transjakarta ingin memberikan dukungan untuk disabilitas agar tetap semangat,” ujar Budi di Jakarta, Minggu (4/12/2016).

“Tidak hanya untuk mereka yang disabilitas, tetapi juga bagi siapa saja yang sakit. Semoga harapan yang digantungkan di pohon bisa memberi semangat baru,” lanjutnya.

‘Wishing Tree’ tersebut ada di dua halte Koridor 1, yaitu Halte Sarinah dan Halte Karet. Pelanggan dapat menuliskan doa dan harapannya untuk kerabatnya yang disabilitas atau sakit untuk kemudian digantungkan pada pohon tersebut.

Humas

PT. Transportasi Jakarta

Rabu, 19 Oktober 2016

Transjakarta Cares Untuk Difabel

PT Transportasi Jakarta mempersembahkan layanan baru yang di khususkan bagi difabel. Program yang dinamakan Transjakarta Cares diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, pada Rabu (19/10/16) di Balaikota.

“Sebagai perusahaan BUMD di bawah Pemprov DKI, Transjakarta memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program besar Pemprov DKI khususnya kesetaraan pelayanan seluruh warga dalam bidang Transportasi. Dengan layanan ini diharapkan kaum difabel tidak menjumpai hambatan dalam mendapatkan moda transportasi yang aman, nyaman dan murah” jelas Dirut Transjakarta, Budi Kaliwono.

“Kaum Difabel juga warga Jakarta jadi mereka juga berhak mendapatkan fasilitas dan subsidi yang dibuat oleh Pemprov dalam pelayanan transportasi” tambahnya.

Sebagai tahap awal, baru 5 unit mobil yang diresmikan. Mobil khusus ini diawaki oleh 1 orang pramudi dan 1 orang petugas yang sudah dilatih khusus melayani difabel.

Armada yang ada saat ini, 4 unit  diantaranya berasal donasi  pihak swasta yang tergerak melakukan program ini. Seperti:
– Asuransi Astra Buana mendonasiskan 1 unit Toyota NAV1,
– Astra Credit Companies mendonasikan 2 unit Daihatsu Luxio,
– dan PT Denso Sales Indonesia mendonasikan 1 unit Daihatsu Luxio.




“Kami menargetkan untuk mengoperasikan 40 unit kendaraan dalam waktu dekat agar kami dapat lebih maksimal. Untuk itu kami mengetuk hati pihak swasta agar dapat mendonasikan kendaraan dalam program layanan ini”, tambah Budi Kaliwono.

Pada tahap awal Transjakarta Cares akan melayani dua zona yakni di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Dalam waktu dekat layanan ini akan mengcover seluruh Jakarta. Beroperasi dari pukul 08.00 sampai dengan 17.00 WIB setiap hari. Pelanggan difabel dapat memesan mobil Transjakarta Care dengan cara menghubungi call center 1500 102 satu hari sebelumnya. Penjemputan akan dilakukan di lokasi asal pelanggan (rumah dan sebagainya) untuk diantar ke halte ramah difabel terdekat.

“Kami sudah menyiapkan 10 halte yang memiliki JPO yang ramah kaum difabel, setelah di jemput dari rumah, maka armada kami akan mengantar ke halte ramah difable dan dapat meneruskan perjalanannya menggunakan armada Tranjakarta sampai halte ramah difabel yang terdekat dengan tujuan. Armada Transjakarta Cares lanjutan akan mengantar sampai ke Tujuan.

“Kami telah menyiapkan 7 pramudi dan 20 satgas yang siap melayani difabel, dan siap untuk melayani” ujar Dirut Transjakarta Budi Kaliwono, menutup pembicaraan.

Prasetia Budi
Humas
PT.Transportasi Jakarta

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kartu Layanan Gratis “TJ Card”: Layanan Gratis bagi Lansia, Difabel, Veteran, Pemegang KPS dan Penduduk Pulau Seribu.

Layanan Transjak Gratis - Kartu TJ (White)-Rabu, 5 Oktober 2016

Manajemen Transjakarta tak akan berhenti untuk melakukan berbagai terobosan peningkatan layanan agar pelanggan dan masyarakat kian nyaman. Bentuk layanan yang akan diberikan adalah pembuatan kartu untuk pelanggan khusus naik bus Transjakarta gratis (sesuai Pergub Pemprov DKI Jakarta nomor 160 tahun 2016) dalam bentuk kartu “TJ Card” untuk pelanggan dengan kategori:

– Lanjut Usia KTP DKI (Lansia 60 tahun ke atas).
– Kaum Difabel
– Anggota Veteran Republik Indonesia (Kartu Legiun Veteran).
– Memiliki Kartu Perlindungan Sosial (KPS Jabodetabek).
– Penduduk Pemegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kepulauan Seribu.

Registrasi dan pendaftaran untuk dapatkan “TJ Card” bisa dilakukan di seluruh halte di koridor Transjakarta. Di beberapa halte dengan jumlah pelanggan yang besar disediakan booth untuk melayani pendaftar yang buka mulai pukul 06:00 WIB hingga pukul 20:00 WIB. Booth tersebut dapat dijumpai di halte Glodok, Kalideres, Pasar Pulogadung, Matraman 1, Kampung Melayu, Ragunan, PGC 2, Duri Kepa, Slipi Petamburan, Tanjung Priok.

Untuk memiliki “TJ Card” sangat mudah. Petugas di halte akan membantu mendata identitas pelanggan dengan persyaratan memperlihatkan KTP untuk difoto, harus bersedia difoto dan memberikan nomor telepon yang bisa dihubungi oleh petugas Transjakarta.

Pendaftaran dibuka sampai dengan tanggal 17 Oktober dan Efektif bisa digunakan mulai 1 November 2016. Jika kartu “TJ Card” ini sudah selesai akan dihubungi melalui telepon dan bisa diambil di tempat pendaftaran.

“Khusus mengenai pembuatan kartu TJ Card ini, petugas halte Transjakarta sudah melakukan sosialisasi kepada pelanggan dan masyarakat. Hal ini cukup memudahkan untuk proses pembuatan kartu TJ Card yang dimaksud,” terang Budi Kaliwono, Dirut Transjakarta.

Sama seperti pelanggan lainnya, pemegang kartu “TJ Card” tetap melakukan tap in dan tap out di halte ketika naik bus Transjakarta. Untuk saat ini layanan tersebut hanya berlaku di koridor Transjakarta (berlaku di halte BRT). Sehingga pelanggan yang dari atau menuju rute feeder stasiun dan rute ke daerah penyanggah belum dapat menikmati layanan gratis ini.

Humas
PT. Transportasi Jakarta

Kamis, 04 Desember 2014

Pemprov DKI Perjuangkan Berbagai Fasilitas untuk Difabel



Pemprov DKI Jakarta bersama Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) terus memperjuangkan sistem dan moda transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas (difabel). Upaya sosialisasi pun terus dilakukan, seperti halnya sosialisasi yang dilakukan di gedung Kelapa Gading Klub, Jakarta Utara, Rabu (3/12).

Sosialisasi ini menghadirkan sejumlah pembicara yang berkompeten di bidangnya, diantaranya, Kepala Bidang Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dinas PerhubunganDKI Jakarta Masdes Arofi, Kepala Seksi Perencanaan Jalur Hijau Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Rika Angraini, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia Eka Setiawan dan anggota Presidium Dewan Transportasi Kota Jakarta, Bagus Supriyanto. Salah satu topik utama pembahasan yakni mengenai Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan halte angkutan umum yang belum dilengkapi tangga luncur (ramp).

Anggota Presidium Dewan Transportasi Kota Jakarta, Bagus Supriyanto mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk memperjuangkan hak difabel dalam pelayanan transportasi. Lebih lanjut Bagus berharap usai kegiatan ini diharapkan berbagai fasilitas yang ramah difabel segera bisa terwujud.
[BeritaJakarta]

Rabu, 15 Oktober 2014

Transjakarta Diminta Akomodir Kaum Difabel

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengakui jika pelayanan bus Transjakarta hingga saat ini belum mengakomodir kepentingan kaum difabel. Untuk itu, PT Transjakarta pun diminta segera menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut.

"Sistem bus kita harus bisa menyediakan (akses) untuk orang-orang disabilitas," ujar Basuki di Balaikota, Rabu (15/10).

Dikatakan Basuki, infrastruktur bus Transjakarta saat ini juga belum sesuai dengan kebutuhan kaum difabel.

"Kami sudah minta PT Transjakarta untuk membangun infrastruktur yang sesuai karena sebenarnya sudah ada perdanya," katanya.

Mantan Bupati Belitung Timur ini menambahkan, para petugas di halte juga harus peka terhadap para penumpang disabilitas yang akan menggunakan Transjakarta.

"Makanya kami menyiapkan bus tingkat gratis, supaya deck-nya lebih pendek. Angkutan umum harus kita paksakan, harus ada space untuk penyandang disabilitas. Sekarang kita bereskan haltenya dulu," tandasnya.

Minggu, 06 April 2014

Setiap Mobil Listrik Wajib Punya "Suara" Mesin

Salah satu potensi masalah yang terjadi di era mobil listrik adalah hilangnya suara “bising” mesin seperti kebanyakan mobil konvensional. Parlemen Eropa memutuskan, dalam lima tahun ke depan setiap mobil listrik harus memiliki sumber suara buatan sebagai peringatan buat pejalan kaki dan pengguna lalu-lintas lain.

Hasil pengambilan suara anggota parlemen memutuskan, semua mobil listrik dan hibrida harus disematkan Acoustic Vehicle Alerting System (AVAS), penghasil suara seperti mesin pada umumnya. Regulasi telah masuk dalam Undang-Undang baru Uni Eropa yang juga menyebutkan mobil dan truk konvensional dengan mesin bensin dan diesel harus menurunkan 25 persen tingkat kebisingan.

 “Mobil listrik tanpa suara bisa jadi pemandangan biasa dalam beberapa tahun ke depan. Kami perlu memastikan semuanya tidak membahayakan. Peranti peringatan suara ini akan menghasilkan suara yang mirip mobil, dengan mesin pembakaran internal agar masyarakat dapat dengan jelas mendengar kendaraan ini,” ucap salah satu anggota Parlemen Eropa untuk Inggris, kepada Dailymail, (2/4/2014).

Mobil listrik tanpa suara dinilai berbahaya buat pedestrian terutama tunanetra. Sebelumnya, menyematkan audio tambahan hanya berlaku sukarela dari pemilik. Komisi Eropa menyebutkan, AVAS memastikan hanya suara layak yang dikeluarkan. Menyematkan peranti ini wajib dilakukan untuk mobil listrik dan hibrida listrik setelah lima tahun masa transisi.

Senin, 21 Oktober 2013

Ahok Akui TransJakarta Tidak Ramah ke Penyandang Cacat

Tidak ada petugas TransJakarta untuk mendampingi maupun membantu

Para penyandang difabel mengeluhkan buruknya fasilitas TransJakarta bagi mereka. Meski dirancang untuk memudahkan mereka yang berkebutuhan khusus, namun pada kenyataanya pelayanannya masih sangat terbatas.

"Betul, ada beberapa jalur yang tidak bagus dalam melayani penyandang difabel. Sekarang lagi saya tugaskan manajemen untuk membereskan," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota Jakarta, Senin 21 Oktober 2013.

Ahok, sapaan Basuki, mengungkapkan salah satu lemahnya pelayanan bagi penyandang difabel adalah kurangnya petugas. "Tidak ada petugas TransJakarta untuk mendampingi maupun membantu penumpang difabel saat naik turun TransJakarta," ucapnya.

Mantan Bupati Belitung Timur ini minta Kepala Unit Pelayanan (UP) TransJakarta untuk segera membenahi pelayanan satu itu. "Kalau tidak bisa mungkin mau kami ganti lagi Kepala UP-nya, atau bagaimana?," ucap dia.

Pelayanan TransJakarta juga dikeluhkan masyarakat pengguna. Banyaknya jalan yang rusak membuat waktu tempuh transportasi umum andalan Jakarta ini menjadi semakin lambat.
"Kami sekarang tidak bisa mengandalkan Transjakarta. Waktu tempuh jadi lama, jalan banyak yang rusak, busnya jadi lambat," kata Iqbal seorang karyawan swasta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Kondisi ini diperparah banyaknya pembangunan yang mengganggu jalan. "Banyak halte yang dilewati karena jalannya diperbaiki, kami jadi mesti turun sebelum atu sesudah halte yang mestinya kami turun," ucap Iqbal. Tidak hanya itu, armadanya pun banyak yang sudah tidak layak.

Iqbal pun mengaku berpikir untuk menggunakan motor kembali. "Asalnya saya pakai motor buat kerja, lalu tidak saya pakai lagi karena niatnya dukung pemerintah ngurangi macet. Tapi kalau seperti ini saya pengen pakai motor lagi soalnya perjalanan jadi lambat dan tak nyaman," ujarnya.

Senin, 05 Januari 2004

Busway, Whose Way?


Sebenarnya tidak ada argumen yang sungguh menolak busway secara mendasar. Orang hanya meragukan kemampuan pemerintah Jakarta membangun dan mengoperasikannya dengan baik, dan apakah kita memiliki konsep keseluruhan sistem transportasi Jakarta. Keraguan ini sangat beralasan, dilihat dari kinerjanya sejauh ini.

Dari bulan ke bulan, sebenarnya ada kemajuan penyampaian informasi kepada masyarakat. Namun secara sepotong-sepotong. Ini bukan sekadar perkara public relation yang buruk, melainkan memang tidak ada isi informasi yang dapat disampaikan secara lengkap. Sungguh tampak bahwa pemerintah tidak punya konsep komprehensif dari awal, dan semua dikembangkan serba sepotong-sepotong, sambil jalan. Awalnya diumumkan akan ada satu saja jalur busway. Lalu ada monorail. Lalu muncul kritik bahwa masalah transportasi Jakarta bukan hanya soal satu-dua jalur, melainkan masalah sistem intermoda yang terpadu. Tiba-tiba kini disampaikan bahwa busway dan monorail akan dipadukan. Bahkan monorail ternyata terdiri dari dua jalur. Belakangan ditambahkan bahwa semua itu akan menjadi embrio dari sebuah sistem menyeluruh. Tapi tidak tersedia keterangan tentang apa dan bagaimana "sistem yang menyeluruh" itu, karena memang belum ada konsepnya.

Jadi, kota ini memang "direncanakan" secara sepotong-sepotong. Ini sangat berbeda dengan "dibangun" sepotong-sepotong atau bertahap, yang di mana pun adalah wajar. Sistem transportasi Singapura sampai sekarang belum selesai. Jalur subway dari pusat kota ke Bandar Udara Changi baru beroperasi tahun 2002. Tapi perencanaannya sudah ada sejak tahun 1980-an. Sebaliknya, sampai sekarang tidak ada perencanaan jalur mass rapid transit dalam bentuk apa pun antara Jakarta dan Bandar Udara Soekarno-Hatta. Kalau kita mau meniru Singapura, setidaknya jangan citra luarnya, tapi semboyannya: the best planning is the earliest planning.

Pastilah sekarang staf birokrasi Jakarta dan para konsultannya sedang bekerja kalang-kabut menyiapkan konsep tersebut. Setidaknya demikian warga Jakarta yang cerdas, meskipun telah telanjur waswas: bagaimana mungkin sebuah prasarana yang begitu penting dan mahal diluncurkan tanpa didasarkan terlebih dahulu pada sebuah konsep menyeluruh, yang ternyata dikembangkan sambil jalan saja—itu pun setelah dikritik terlebih dahulu? Bahkan anggaran ditingkatkan berkali-kali, bukan karena ekspansi yang direncanakan, tetapi karena ada hal-hal yang lalai direncanakan sebelumnya.

Busway adalah hasil lobi sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mereka bahkan mendatangkan mantan Wali Kota Bogota, Dr. Penelosa, ke Jakarta, dan mengirim sejumlah pejabat, wartawan, dan wakil LSM ke Bogota, Kolombia, dengan biaya dari donor, untuk meyakinkan pemerintah. Sedangkan monorail adalah usulan investor, diwakili oleh Ruslan Diwiryo, tokoh yang pernah menjadi Direktur Jenderal Bina Marga di Departemen Pekerjaan Umum dan membidani privatisasi jalan tol di awal tahun 1990-an. Prakarsa pemerintah sendiri nol.

Penampilan fisik yang mulai tampak oleh kita selepas tahun baru ini jelas juga merisaukan. Balok-balok beton pemisah lajur tak lurus benar, tak mulus melengkung pada tikungan. Orang yang mengecat seenaknya jongkok di jalur cepat biasa, bukan melakukannya dari dalam jalur busway itu sendiri. Halte warna metalik kelihatan sophisticated, namun dari dekat tampak bentolan-bentolan las berdamping mur-baut. Pekerjaan yang kasar menjalari sekujur halte dan lerengan (ramp) yang menghubungkannya dengan jembatan pe- nyeberangan. Pekerjaan yang kasar tak dapat dilepaskan dari perancangan yang buruk. Sebelumnya ada sayembara perancangan halte, yang merupakan kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Jakarta, tapi hasilnya tak dipakai. Lalu muncul saja yang anonim seperti sekarang ini. Entah mengapa organisasi para arsitek itu diam saja. Ada sekitar 4.000 orang arsitek di ibu kota ini yang niscaya dapat menghasilkan yang lebih baik. Soalnya memang estetika adalah hal sah yang esensial untuk jalur ini, karena inilah poros identitas Jakarta yang merangkum 400 tahun sejarah perkembangannya, dan menguntai unsur-unsur yang mewakili setiap periodenya. Maka, apa saja pada poros ini tak boleh disamakan dengan "pekerjaan umum" biasa yang asal berdiri dan kuat.

Para difabel (ini adalah singkatan dari "different ability" yang sering digunakan dalam dunia arsitektur tata kota untuk desain bagi kaum cacat fisik) kabarnya juga dikecewakan. Protes para difabel hanya dijawab, "Kursi roda bisa naik, kok, kalau ada yang mendorong." Hasilnya, yang bukan difabel, selain diharapkan membantu yang difabel, juga harus berhati-hati karena semua lerengan tak berjenjang dan berlantai pelat baja, yang meskipun berbentol-bentol akan tetap licin bila terkena air dan lumpur.

Sejumlah ahli transportasi, terdiri dari seorang Deputi Kepala Bappenas Bidang Prasarana dan seorang direktur pada kantor Menteri Koordinator Ekuin, dalam konferensi pers 24 Desember 2003 silam menyesalkan bahwa nasihat yang mereka berikan (antara lain atas undangan dari pemerintah Jakarta sendiri) tak digubris. Bahwa mereka tidak menggunakan kedudukannya sebagai pejabat pemerintah nasional, tapi mengambil posisi sebagai "ahli" dan "LSM", sungguh menunjukkan ada yang tak beres.

Jadi, sangat wajar masyarakat meragukan profesionalisme pemerintah metropolis Jakarta, yang lebih tua daripada New York ini. Kinerjanya di muka khalayak memang tak elok. Akhirnya, memang diperlukan cara yang lebih menekan untuk membuat busway sukses. Pembatasan penggunaan mobil (3-in-1) memang teknik biasa saja. Tetapi di negeri lain hal itu diberlakukan setelah ada alternatif angkutan umum yang baik, bukan sebelumnya.

Membangun busway sama dengan memperkenalkan perubahan mendasar yang besar. Sebuah sistem atau modus angkutan umum adalah sebuah institusi. Prasarana fisik hanyalah salah satu bagian saja. Lebih penting lagi adalah sejumlah pranata kelembagaan, teknologi, rezim aturan dan tata krama, manajemen operasi, dan perilaku yang harus dilembagakan. Ini penting untuk kondisi kepadatan volumetrik dan programatik perkotaan, yang belum senapas dengan suatu bangsa yang belum lama mengenal budaya berkota. Ini adalah suatu institusi yang menuntut orang desa berubah sungguh-sungguh menjadi warga kota. Meskipun kepadatan Jakarta sebenarnya belum seberapa bila dibandingkan dengan ibu kota lain di dunia.

Kepadatan mobil di Jakarta sebenarnya masih rendah sekali. Kepadatan mobil Jakarta adalah 150 per 1.000 penduduk. AS telah mencapai kepadatan 300 per 1.000 penduduk pada tahun 1950-an! Singapura sekarang mencapai angka itu, sementara AS kini sudah mencapai 700 per 1.000 penduduk. Ini cukup alasan untuk panik, segera berpikir strategis jangka panjang menyiapkan sistem angkutan umum komprehensif yang efektif mengurangi penggunaan mobil. Luas jalan dibanding luas lahan terbangun Jakarta relatif sudah sangat tinggi, sehingga tak masuk akal untuk menambah luas jalan secara berarti.

Memperkenalkan suatu sistem baru seharusnya dilakukan dengan kehendak menanamkan suatu institusi baru. Jelas perkaranya jauh lebih luas daripada "sosialisasi" yang sering disalahkaprahkan menjadi sekadar menjelaskan agar orang paham dan menyetujui. Menanamkan institusi adalah suatu manajemen perubahan keseluruhan yang sistemik, termasuk perubahan perilaku yang harus dikelola secara terukur dan bertahap sebagai kunci keberhasilan.

Untuk bersikap realistis terhadap pemerintah yang berpikir dan bekerja sepotong-sepotong, dapat disampaikan lagi satu permohonan perhatian kepada pemerintah Jakarta se- nyampang ia menyiapkan suatu konsep menyeluruh, yaitu mengenai integrasi antara jaringan angkutan umum dan tata guna lahan sepanjang jalurnya, sehubungan dengan proses pertambahan nilai yang akan terbangkitkan di situ.

Busway dan monorail akan melalui jalur "gemuk", bersifat demand-driven. Investasi yang besar (anggaran yang diajukan telah mencapai lebih dari 250 miliar untuk busway saja) sebaiknya memang berhasil. Kalau berhasil, bagaimana dampaknya terhadap tata ruang Jakarta?

Nilai ruang kota ditentukan mendasar oleh guna-lahan dan kepadatan prasarana yang tersambung kepadanya. Setiap suntikan prasarana mengubah nilai ruang secara dramatis, karena jumlah lahan yang menjadi dasar ruang perkotaan bersifat tetap dan terikat bumi (tempat). Karena tidak ada dua produk ruang yang 100 persen identik, tiap komodifikasi ruang senantiasa berarti potensi monopoli, karena hanya ada satu produsen untuk satu jenis produk ruang. Maka, kita tahu bahwa pengembang yang berhasil adalah yang tahu lebih dulu rencana prasarana publik (contoh: pengembang Pondok Indah dan Pantai Indah Kapuk); atau yang melalui lobi berhasil mengubah rencana tata ruang dan prasarana, ketika ia mencapai skala ekonomi yang amat besar (contoh: Bumi Serpong Damai). Intervensi publik dalam ruang harus diperlakukan sangat hati-hati, karena berdampak luas dalam hal persaingan ekonomi dan keadilan.

Tiap gelaran prasarana bersifat diskriminatif, karena akan meningkatkan nilai ruang tertentu. Secara positif, dapat dikatakan ia bersifat "mengarahkan". Itulah sebabnya penggelaran prasarana, bersama dengan tata ruang, adalah alat yang amat menentukan dalam mengarahkan struktur kota. Nilai ruang sama sekali tidak terjadi dalam pasar bebas. Perencanaan menentukannya. Yang benar adalah perencanaan harus dilakukan dengan sepenuhnya menyadari dinamika pasar atas ruang, sebagai hubungan timbal balik antara intervensi dan realitas pasar. Karena kondisi di atas, kedua alat ini juga sangat potensial sebagai lahan korupsi. Sebaliknya, kedua alat itu sangat konstruktif bila berada di tangan yang bijak, karena bisa digunakan untuk menata kembali demi kemaslahatan orang banyak dan kesehatan jangka panjang seluruh kota.

Jalur-jalur angkutan umum bagi sebuah kota metropolitan sangat menentukan, karena mobilitas menentukan produktivitas. Ungkapan bahwa dalam bisnis property yang penting adalah (1) lokasi, (2) lokasi, dan (3) lokasi sebenarnya berarti: (1) akses ke lokasi, (2) pelayanan dan prasana tersambung ke lokasi, dan (3) guna lahan yang direncanakan untuknya, beserta citra kelas lokasi tersebut.

Jalur busway akan melewati Blok M, Sudirman, Thamrin, GajahMada/HayamWuruk, dan Stasiun Kota. Jalur monorail pertama akan melintasi Kampung Melayu, Tebet, Casablanca, Karet, Kebon Kacang, Tanah Abang, Cideng, dan Roxi. Sedangkan jalur monorail kedua akan melingkari Dukuh Atas/Sudirman, Kuningan/Rasuna Said, Gatot Subroto, Senayan, Pejompongan, dan Karet.

Sekali jalur ini berhasil, akan ada tekanan perubahan guna-lahan (land-use). Lahan-lahan yang relatif "kosong" pada saat ini, misalnya Senayan, Karet, dan Pejompongan, akan mendapat tekanan untuk diisi. Fungsi-fungsi lahan yang dianggap "belum optimal", misalnya permukiman di Setiabudi, Dukuh Atas, Cideng, Tanah Abang, Kebon Kacang, Menteng Dalam, Tebet, dan Kampung Melayu, akan ter-ancam tergusur oleh guna-lahan yang memberi keuntungan lebih tinggi. Penggusuran akan terjadi lagi. Migrasi netto negatif akan makin besar, ketika Jakarta kehilangan stock perumahan itu.

Sikap, pilihan, dan cara pemerintah mengendalikan proses nilai tambah dan perubahan guna lahan, termasuk membiarkannya secara laissez faire, baik karena ketidaktahuan, ketidakmampuan, ataupun ketidakmauan, akan menentukan busway ini sebenarnya whose way.

Marco Kusumawijaya
Arsitek perencana kota, salah satu pemrakarsa Asosiasi Pengguna Angkutan Umum
[Majalah Tempo Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004  / Batavia Busway]