Tampilkan postingan dengan label Kereta Cepat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kereta Cepat. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Japan's levitating maglev train reaches 500km/h (311mph)


Train fans have experienced the speed of super-fast maglev trains, during test runs for members of the public in central Japan.

One hundred passengers whizzed along a 42.8km (27 mile) route between the cities of Uenohara and Fuefuki, reaching speeds of up to 500km/h (311mph).

The Central Japan Railway Company is running eight days of testing for the experimental maglev Shinkansen train on its test track in Yamanashi Prefecture.

The maglev trains are even faster than Japan's famous bullet trains, which currently travel at about 320km/h (200mph).

They use magnetic levitation, hence the name, to "float" above the train tracks.
[Youtube/BBC]

Rabu, 17 September 2014

Alasan RI Harus Punya Kereta Super Cepat Shinkansen

Wacana untuk membangun kereta api cepat Shinkansen tampaknya memang perlu direalisasikan. Namun kereta api ini harus dibangun di luar Pulau Jawa, bukan antara Jakarta-Surabaya seperti yang selama ini direncanakan.

"Kalau jangka panjang high speed trail itu di Sumatera bukan di Jawa," ujar Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (17/9/2014).

Menurut Danang, alasan perlunya pembangunan kereta cepat ini yaitu untuk menumbuhkan pusat-pusat ekonomi di daerah lain yang dilintasinya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi juga menjadi lebih merata.

"Sekarang itu pertumbuhan ekonomi terpusat di Jakarta sehingga strategi untuk bisa menyelesaikan Jakarta itu membuat pertumbuhan baru," lanjutnya.

Namun jika, kereta cepat Shinkansen ini tetap diprioritaskan untuk dibangun di Pulau Jawa, maka hal ini lebih kepada melepaskan beban kemacetan dan pencemaran lingkungan di ibukota. Karena pembangunan ini akan membuat kota-kota baru di Pulau Jawa.

"Jawa urgensinya melepaskan beban di Jakarta untuk orang tinggal dan hidup di sana. Kalau orang tinggal di Jakarta- Surabaya, kota-kota Cirebon, Tegal Pemalang itu akan jadi kota baru. Nanti ada penyebaran pertumbuhan yang lebih adil," tandasnya.

Selasa, 01 Juli 2014

Dirut PT KAI: Saya Menentang Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Direktur Utama PT KAI (Persero) Ignasius Jonan menilai megaproyek Shinkansen alias kereta api cepat Jakarta-Bandung yang menelan investasi sekitar Rp 56 triliun tidak berkeadilan.

"Soal kereta cepat Jakarta-Bandung, saya yang paling menentang. Itu tidak berkeadilan," kata  Jonan dalam CEO Speaks on Leadership Class di Universitas Binus, Jakarta, Senin (30/6/2014).

Jonan mengatakan, dirinya menolak pembangunan proyek itu jika didanai dengan anggaran APBN, baik langsung maupun dengan cara utang. Menurut dia, proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tidak terlalu penting dibanding mengembangkan kereta api trans-Sumatera, trans-Kalimantan, trans-Sulawesi, serta trans-Papua.

"Rohnya APBN itu NKRI. Kalau Jawa aja yang maju, ya merdeka aja Papua dan lainnya itu," ucap Jonan.

Di sisi lain, dia mengatakan, KAI akan mendukung proyek kereta api walaupun mahal tetapi menggunakan dana KAI sendiri dan tidak menggunakan APBN. Misalnya, proyek kereta api Bandara Medan-Kualanamu.

"Sebentar lagi kita juga akan bikin, pakai duit KAI sendiri kereta Bandara Soekarno-Hatta, hampir Rp 3 triliun," katanya.

Seperti diberitakan, Pemerintah Indonesia menerima dana hibah dari Pemerintah Jepang sebesar 15 juta dollar AS untuk studi kelayakan proyek Shinkansen Jakarta-Bandung. Studi kelayakan berlangsung selama dua tahap.

Tahap pertama mulai 28 Januari 2014 hingga April 2015 untuk membahas perencanaan dasar kereta peluru tersebut. Tahap kedua berlangsung dari April 2015 hingga Desember 2015 guna menggodok detail kalkulasi biaya pembangunannya.

Perkiraan awal, proyek kereta kilat ini akan membutuhkan investasi hingga Rp 56 triliun. Dana tersebut termasuk untuk membangun jalur kereta sepanjang 133 kilometer dan pengadaan kereta cepatnya.

Rabu, 05 Maret 2014

Bos KAI Sebut Kereta Cepat Shinkansen Jakarta-Surabaya Belum Perlu

Pemerintah berencana membangun proyek kereta cepat Shinkansen untuk rute Jakarta-Surabaya dan Jakarta-Bandung. Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan menganggap proyek ini tidak perlu. Lho, kenapa?

Jonan mengatakan, untuk membangun proyek kereta super cepat membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Dia memperkirakan kereta cepat itu akan menghabiskan dana ratusan triliun rupiah.

"Itu kalau Jakarta-Surabaya paling kurang biayanya Rp 200 triliun sampai Rp 300 triliun. Pertanyaan saya perlu nggak dibikin kereta cepat?" kata Jonan saat ditemui selepas jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta, Rabu (5/3/2014).

Jonan menegaskan, dana sebesar itu lebih baik digunakan untuk pemerataan pembangunan di luar Jawa. Infrastruktur, menurutnya jangan hanya dibangun di pulau Jawa saja, melainkan pulau-pulau lain di Indonesia.

"Yang bangun harus pemerintah. Kenapa dana itu tidak digunakan untuk membangun infrastrutktur di luar Jawa. Menurut saya ya bangun infrastruktur di luar Jawa supaya pemerataan pembangunannya lebih baik," papar Jonan.

Dia juga beralasan waktu konstruksi untuk membangun mega proyek itu tidak sebentar. Memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk merampungkan proyek itu, terlebih jaraknya yang mencapai sekitar 700 kilometer.

"Kalau elevated itu makan waktu. Lebih dari 10 tahun saya kira. Konstruksi di tengah jalur ganda itu makan tantangannya luar biasa. Kecuali keretanya (double track) mau berhenti semua," tambahnya.

"Bandung raya urban railway saja itu berapa tahun. Double track Cikarang-Manggarai 10 tahun itu nggak ada realisasinya," imbuhnya.

Dia juga mengaku tidak berminat jika nanti ditawari menjadi operator kereta cepat ini. "Saya nggak minat kereta cepat Jakarta-Surabaya. Saya sebagai operator kereta api, kereta cepat itu belum perlu," tutupnya.