Minggu, 25 Mei 2014

Tak hanya Pemda, Monorel juga tanggung jawab Pusat

Proyek monorel untuk mengatasi kemacetan ibukota sangat dinantikan kehadirannya oleh masyarakat. Menurut Tjipta Lesmana, Pakar Komunikasi Politik kehadiran monorel sangat dibutuhkan mengingat kemacetan Jakarta sudah sangat parah. Pertambahan kendaraan setiap tahun sebanyak 10%, sedangkan pertambahan jalan hanya 0,6% per tahun.

“Menyelesaikan kemacetan bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah tapi juga pemerintah pusat,” kata Tjipta dalam acara dialog bersama Kompasiana dan PT JM, di Jakarta, Sabtu (24/5).

Darmaningtyas, pengamat transportasi menambahkan, saat ini pemerintah seharusnya tinggal menjalankan saja roadmap transportasi makro yang telah dibuat oleh Sutiyoso. “Ada monorel, lalu jalur sepeda, blue print itu seharusnya dilakukan dengan konsisten. Jalankan saja pola transportasi yang disusun, jangan terlalu banyak kajian lagi,” ucap Darmaningtyas, dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya untuk jalur monorel yang akan dibangun nanti, sebaiknya bukan hanya jalur daerah tujuan perjalanan saja. Tapi harus bisa menghubungkan daerah pemukiman seperti Bekasi ke daerah tujuan, misalnya Kuningan. “Saya lihat jalur monorel ini belum seperti itu,” kata Darmaningtyas.

Rencananya ada dua rute yang dilewati oleh monorel. Antara lain rute Kuningan - Gatot Subroto - SCBD Senayan - Pejompongan - Kuningan. Rute kedua , Mal Taman Anggrek - Tomang - Cideng - Tanah Abang - Karet - Mall Ambasador - Tebet - Kampung Melayu.

 Bagaimanapun, selain berfungsi unutk mengurangi kemacetan, hadirnya monorel tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Monorel ini merupakan kereta dengan kapasitas penumpang sekitar 208 orang. Dalam satu perjalanan bisa membawa maksimum delapan kereta, sekali perjalanan bisa mengangkut 1800 orang.

Saat ini Pemprov DKI Jakarta dan PT Jakarta Monorel tengah melakukan kajian untuk pembangunan proyek bernilai triliunan rupiah ini. Kedua belah pihak masih berkutat soal hak dan kewajiban masing-masing agar tercipta kesepakatan yang seimbang. “Harus ada trust dari kedua belah pihak, kalau tidak ada, ya nggak akan jadi monorel ini,” pungkas Tjipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar