Senin, 09 Juni 2014

YLKI: Tiket elektronik busway jangan dimonopoli

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai sistem e-ticketing (tiket elektronik) yang diterapkan oleh pengelola bus transjakarta sudah bagus. Hal itu karena sistem tersebut dapat mempercepat transaksi sehingga penumpang tidak perlu antre terlebih dahulu di loket.

"Tapi yang harus diwaspadai adalah (tiket elektronik) sebaiknya tidak dimonopoli oleh satu bank, tapi harus multi perbankan agar tidak memberatkan konsumen," kata Ketua YLKI Tulus Abadi, Senin (9/6) seperti dikutip dari Kompas.com.

Tulus melanjutkan, pecahan minimal untuk besaran isi ulang tiket elektronik juga tidak boleh terlalu besar. Ia pun mencontohkan besaran yang pas adalah Rp 10.000,00 seperti isi ulang kartu multitrip KRL.

Selain itu, menurut Tulus, pengelola bus transjakarta pun harus memikirkan mekanisme pengembalian jika penumpang tidak jadi menggunakan jasa bus transjakarta. "Isi ulang juga jangan hanya di loket busway saja, tapi idealnya bisa di ATM, retailer, dan lain-lain," tambahnya.

Sejak seminggu lalu, beberapa loket bus transjakarta, antara lain di Blok M, Kota, dan Pulogadung, tidak menerima pembayaran tunai dalam pembelian tiket. Penumpang harus membayar dengan menggunakan kartu tiket elektronik yang kartu perdananya seharga Rp 20.000,00 dengan isi pulsa Rp 20.000,00 juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar