Kamis, 25 Juli 2013

KRL Ekonomi Resmi Dihapus

Desak-desakan di KRL ekonomi [antara]
Kereta rel listrik (KRL) ekonomi non-AC yang sudah puluhan tahun beroperasi di lintasan kereta di Jabodetabek, mulai Kamis (25/7) ini resmi dihapuskan. Dua rangkaian terakhir yang dioperasikan, satu di jalur Bogor-Jakarta dan satu lainnya di Bekasi-Jakarta mengakhiri pelayanannya pada Rabu kemarin.

PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) sudah mengganti dua rangkaian ekonomi tersebut dengan rangkaian AC ekonomi atau commuterline. Saat ini, ada 51 rangkaian commuterline di Jabodetabek. "Kami sudah menggantikannya dengan kereta AC ekonomi, ada dua rangkaian. Satu rangkaian ekonomi diganti dengan satu. Jadi, tidak ada pengurangan jam. Jam yang selama ini digunakan untuk KRL ekonomi, dipakai untuk commuterline,” kata Direktur PT KCJ Ignatius Tri Handoyo kepada SP, Kamis (25/7).

Selama 2013 ini, lanjut Tri, PT KAI Daop 1 telah menarik sembilan rangkaian KRL ekonomi non-AC. Penarikan tersebut secara bertahap. Terakhir, yang ditarik adalah dua rangkaian jurusan Bogor-Jakarta dan Bekasi-Jakarta tersebut.

Di berbagai stasiun, seperti pengamatan SP pagi tadi, juga tidak terlihat protes dari para penumpang ekonomi. Beberapa waktu lalu, penarikan KRL ekonomi non-AC tersebut menimbulkan gejolak. Para penumpang memblokir kereta di Stasiun Bekasi. Saat itu, mereka menginginkan agar PT KAI tetap menjalankan rangkaian KRL ekonomi non-AC yang tarifnya jauh lebih murah.  

Sejak diberlakukannya tarif progresif yang cukup murah, para penumpang yang selama ini naik KRL ekonomi non-AC, telah beralih menggunakan ekonomi AC atau disebut commuterline. Hingga hari-hari terakhir  masa edarnya, penumpang ekonomi non-AC berkisar 13.000 penumpang. Jumlah ini jauh dibanding dengan commuterline, yang mencapai 500.000 orang.  

Tiket termurah commuterline adalah Rp 2.000, sedangkan termahal Rp 7.000. Tiket termahal yakni jurusan Bogor-Maja (Tangerang). Tarif progresif yang diberlakukan saat ini sangat adil bagi penumpang. Sebelum ada tarif progresif, penumpang mengeluarkan biaya sangat mahal. Untuk mencapai satu stasiun, penumpang harus merogoh koceknya sebesar Rp 8.000 atau Rp 9.000, bergantung jurusan.  

Namun, kini, dengan tarif progresif, untuk lima stasiun pertama, penumpang hanya dikenai tarif Rp. 2.000, dan kemudian Rp. 500 untuk tiga stasiun berikutnya. Harga ini tidak berbeda jauh dengan tiket ekonomi non-AC, Rp 2.000. Namun, banyak penumpang masih sering mengeluhkan naik commuterline justru lebih panas dibanding ekonomi non-AC. Beberapa KRL commuterline memang pendingin udaranya tidak berfungsi dengan baik.  

“Naik ekonomi non-AC kadang lebih enak, sebab udara bisa masuk karena jendela dan pintunya terbuka. Memang, secara keamanan, pintu KRL yang tidak tertutup sangat berbahaya. Saat ini, apa yang dilakukan commuterline sudah bagus, kereta tidak akan jalan jika pintu tidak tertutup,” ujar Daus, warga Bojonggede.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar