Selasa, 14 Mei 2013

KRL Khusus Wanita Dihapus

Kereta rel listrik (KRL) khusus wanita dihapus mulai kemarin. Penghapusan ini untuk meningkatkan daya angkut terkait makin tingginya animo masyarakat yang naik KRL.

Meski KRL khusus wanita dihapus, gerbong khusus wanita tetap ada di setiap rangkaian. KRL khusus wanita ini dialihfungsikan sebagai KRL Commuter Line reguler sehingga para pria pun bisa naik rangkaian ini. Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Eva Chairunisa mengatakan, alih fungsi rangkaian tersebut karena banyak penumpang pria yang mengeluhkan KRL khusus wanita itu.

Setiap hari KRL khusus wanita yang terdiri atas delapan gerbong ini melayani 10 perjalanan Jakarta Kota-Bogor dan sebaliknya. ”Setelah dialihfungsikan dalam satu rangkaian tetap dialokasikan dua gerbong khusus wanita di bagian paling depan dan bagian paling belakang,” kata Eva.

Pada 30 September 2012 PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan satu rangkaian KRL khusus wanita relasi Bogor- Jakarta Kota dan sebaliknya. KRL ini beroperasi selama enam hari dalam seminggu. Pada Minggu dan hari libur rangkaian KRL khusus wanita tidak beroperasi. Program KRL khusus wanita ini kelanjutan dari program gerbong khusus wanita yang sudah terlebih dahulu diluncurkan 19 Agustus 2010.

Lebih lanjut Eva mengatakan, kebutuhan masyarakat akan KRL terus meningkat. Saat ini tercatat setiap hari penumpang KRL di Jabodetabek mencapai 450.000 orang. Mulai 1 April, jadwal KRL Jabodetabek bertambah dari 514 menjadi 575 perjalanan. Dia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan KRL khusus wanita akan kembali diadakan jika jumlah armada KRL Commuter Line sudah memadai.

"Kita akan terus menambah rangkaian. Jika sudah dirasa cukup, baru akan kita adakan lagi rangkaian khusus wanita,” ungkap mantan karyawati ini.

Kepala Humas PT KAI Mateta Rijalulhaq mengaku, tingginya animo masyarakat untuk menggunakan KRL bisa terlihat dari banyak para pria yang naik rangkaian khusus wanita. Ketika ditanya petugas kenapa naik KRL khusus tersebut, mereka mengaku harus mengejar waktu agar tidak telat sampai kantor.

Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tapi hampir dalam seluruh perjalanan KRL khusus wanita. ”Jika petugas menemukan pria dalam kereta khusus wanita, tentu akan diturunkan di stasiun berikutnya, namun tidak sedikit juga pria yang berhasil mencapai stasiun tujuan,” tuturnya.

Melihat hal tersebut, PT KAI melakukan evaluasi terhadap keberadaan KRL kereta khusus wanita tersebut dan disepakati untuk dialihfungsikan. Menurutnya ada dua hal yang menjadi prioritas PT KAI dalam pelayanan kepada penumpang yakni faktor keselamatan dan ketepatan waktu.

Untuk faktor keselamatan, pihaknya selalu melakukan perawatan dan berusaha menghapuskan KRL ekonomi. ”Dari sisi keamanan, KRL ekonomi cukup mengkhawatirkan, mulai dari pintu yang terbuka, tidak ada petugas keamanan, dan perilaku penumpangnya itu sendiri,” paparnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar