Rabu, 16 April 2014

Nielsen sebut konsumen Indonesia sulit dilarang beli mobil

Lembaga Survei Nielsen menyebut bahwa konsumen di kota besar Indonesia sulit dilarang untuk membeli mobil. Itu didasarkan pada hasil penyebaran kuesioner online sepanjang Agustus-September 2013 di 60 negara.

Dari 30.344 peserta jajak pendapat, 505 responden berasal dari Indonesia. Sebanyak 73 persen responden tinggal di perkotaan, 12 persen di pedesaan, dan 15 persen suburban.

Berdasarkan survei itu, 63 persen dari 505 responden Indonesia berencana untuk membeli mobil dalam dua tahun mendatang. Sebanyak 18 persen akan membeli mobil bekas dan hanya 19 persen yang mengaku tidak tertarik membeli kendaraan roda empat.

Di sisi lain, sebanyak 96 persen responden yang sudah memiliki mobil akan kembali membeli mobil jika memiliki cukup uang. Dari responden yang sudah memiliki mobil itu, 95 persen diantaranya mengaku akan membeli mobil dengan kualitas yang lebih baik.

Peneliti Nielsen Yohannes Benny Wuryanto menilai, fenomena yang dialami Indonesia tersebut mirip China, India dan Brasil. Di mana masyarakat kelas menengahnya sedang gandrung memiliki mobil sebagai simbol kemapanan.

Ini berbeda dengan fenomena yang dialami negara industrialis macam Amerika Serikat, Australia, atau Eropa. Masyarakat di sana memilih kembali menggunakan transportasi publik karena lebih ramah lingkungan.

"Indonesia pasti akan menuju ke sana (mayoritas transportasi publik), tapi untuk saat ini, curve-nya sedang dalam tahap asyik membeli mobil," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (16/4).

Di sisi lain, sejumlah otoritas kota besar di Indonesia sudah terlihat mengerem jumlah peredaran mobil. Pemprov DKI Jakarta sebagai pionir telah menaikkan tarif parkir di kawasan segitiga emas, Sudirman-Thamrin-Kuningan.

Kemudian ada wacana Electronic Road Pricing (ERP) dan pembatasan BBM subsidi. Terobosan ini diimbangi oleh pembangunan transportasi publik, seperti MRT, monorel, dan Transjakarta.

"Baru Jakarta yang punya pemimpin sadar transportasi umum. Artinya inisiatif itu baru berjalan, Jokowi itu sudah mulai disusul daerah lain seperti Surabaya. Sehingga kita lihat, untuk kota besar visinya transportasi umum. Cycle-nya orang-orang membeli mobil agak di setop," kata Benny.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar