Senin, 08 April 2013

Demi KRL Lewat, Dia Rela Menahan Buang Air



Sepekan sudah perubahan Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka) oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) terhitung sejak 1 April 2013. Perubahan ini membuat jumlah perjalanan KRL Jabodetabek menjadi bertambah. Penambahan jumlah perjalanan KRL membuat tingkat pelayanan kepada masyarakat pengguna kereta meningkat. Namun, di sisi lain, sejumlah perangkat kerja dari PT KAI menjadi lebih sibuk, tak terkecuali Madinah (44), salah seorang petugas penjaga palang pintu di pelintasan sebidang KRL.

Madinah bertugas di pelintasan sebidang yang terletak tidak jauh dari Kampus IISIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sejak diberlakukannya penambahan jumlah perjalanan KRL, dia mengaku beban tugasnya sedikit bertambah. Padatnya frekuensi KRL berbanding lurus dengan kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor di pelintasan sebidang, terutama di pagi hari.

Tak jarang, kata Madinah, frekuensi KRL yang semakin padat membuat Madinah harus menahan lapar, bahkan menahan buang air. Hal itu disebabkan dalam satu kali shift, petugas penjaga palang pintu pelintasan sebidang hanya bekerja sendirian, apalagi pelintasan yang dijaga adalah rute Bogor-Jakarta yang merupakan rute KRL terpadat.

Beratnya tugas yang diemban Madinah diperparah dengan tingkat kesadaran akan keselamatan diri sendiri para pengguna jalan raya yang melewati pelintasan sebidang sangat rendah.

"Mau enggak mau, nahan dulu makan dan buang air karena kereta rata-rata lewat per sepuluh menit. Itu yang pagi paling padat. Jaga-jaga takutnya sering ada yang enggak sabaran main nyelonong. Ntar agak siang dah mulai agak lengang baru bisa makan," kata Madinah saat dijumpai Kompas.com pada Minggu (7/4/2013) petang di posnya.

Menurut Madinah, setiap harinya, jadwal kerja para petugas penjaga pelintasan terbagi atas tiga shift, yaitu dari pukul 06.00-13.00, 13.00-19.00, dan 19.00-06.00. Di setiap pos, terdiri atas satu regu yang berisi empat orang. Setiap hari, tiga orang bergantian masuk kerja sesuai shift yang telah diatur dan satu orang lagi mendapat jatah libur.

Madinah menuturkan, dia telah bekerja sebagai pegawai PT KAI sejak tahun 1990 dan mulai menjalani tugas sebagai penjaga palang pelintasan sebidang sejak tahun 1997. Sebelumnya, dia bekerja sebagai petugas tiket dan wesel di Stasiun Manggarai.

"Awal-awal dapat tugas jaga (pintu palang pelintasan) saya masih ingat pas zaman Pak Harto mau lengser, lagi ramai-ramainya demo. Dari dulu sampai sekarang, pelintasannya tetap begini, enggak berubah," ujarnya.

Sejak jumlah perjalanan KRL Jabodetabek ditambah, tercatat di sejumlah perlintasan sebidang yang ada di wilayah Jabodetabek mengalami kemacetan parah, belum lagi yang dibarengi dengan kecelakaan. Gagasan untuk segera menghilangkan jalur pelintasan sebidang pun telah berulang kali muncul, yaitu dengan membangun jalur kereta layang (elevated) atau dengan membangun fly over atau underpass.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroso Alimoeso mengatakan, infrastruktur transportasi perkeretaapian di Jabodetabek tidak pernah dikembangkan. Dalam diskusi Kebijakan Pembangunan dan Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal di Kawasan Perkotaan di Hotel Millenium Jakarta, Rabu (20/2/2013) yang lalu, Suroso menerangkan, masterplan transportasi perkeretaapian, khususnya dari Depok hingga Jakarta Kota, telah ada sejak era tahun 1978 hingga 1980.

Suroso mengatakan, infrastruktur kereta api sebenarnya bisa dikembangkan, misalnya dengan mengembangkan menjadi jalur kereta layang (elevated) sehingga tidak akan mengganggu layanan jalur darat lain, seperti kendaraan roda dua dan roda empat. Menurut Suroso, tidak dapat dipungkiri bahwa saat perekonomian masyarakat mengalami pertumbuhan, jumlah kendaraan pribadi juga semakin meningkat.

"Masalahnya, perencanaan (infrastruktur kereta) ini tidak konsisten. Bukan malah dikembangkan, tapi justru stagnan sampai sekarang," kata Suroso saat itu.

Sekadar informasi, sampai sekarang, satu-satunya jalur KRL di Jabodetabek yang telah menggunakan jalur layang hanya terdapat pada jalur Manggarai-Jakarta Kota, sementara jalur yang lain masih menggunakan jalur konvensional. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta pada Januari 2013 yang lalu telah menganggarkan Rp 62,5 miliar yang direncanakan akan digunakan untuk membangun sepuluh jalan, tujuh di antaranya adalah underpass dan tiga lainnya fly over untuk meningkatkan keselamatan para pengguna jalan yang melintas di pelintasan rel kereta api.

"Tahun ini, pembangunan 10 jalan itu akan diselesaikan dengan menggunakan sistem multiyears. Tahun depan akan dianggarkan kembali dalam APBD DKI 2014," kata Ery Basworo, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, ketika itu, Rabu (30/1/2013).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar