Selasa, 09 Desember 2014

Memberesi Transjakarta Busway [Buku oleh Darmaningtyas]

Dorongan untuk fokus ke memberesi Transjakarta Busway itu mengingat sampai usianya yang kedelapan tahun (15 Januari 2012) perkembangan Transjakarta Busway terlalu lamban. Salah satu faktor pemicunya adalah karena Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012 Fauzi Bowo atau lebih dikenal dengan sebutan Foke kurang antusias mengembangkan busway lantaran busway diidentikkan dengan Sutiyoso (Gubernur DKI Jakarta 1997-2007). Boleh jadi Foke ingin melepaskan bayangbayang kesuksesan Gubernur Sutiyoso dalam membangun sistem BRT (Bus Rapid Transit) yang kemudian populer dengan sebutan busway.Tapi justru sikap Foke yang enggan membereskan busway itulah yang menjadi salah satu batu sandungan atas kegagalan kepemimpinannya.Masyarakat menilai bahwa Foke yang mengaku sebagai ahlinya Jakarta ternyata tidak terbukti di lapangan. Selama masa kepemimpinan Foke, busway ibarat menjadi anak terlantar karena kurang memperoleh perherhatian serius dari orang tuanya. Hal itu ditunjukkan dengan adanya tiga koridor yang infrastrukturnya telah terbangun pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, yaitu Koridor 8 (Lebak Bulus – Harmoni), Koridor 9 (Pinangranti – Pluit), serta Koridor 10 (Cililitan – Tanjung Priok) mengalami penundaan operasional, khusus untuk Koridor 9 dan 10 lebih dari dua tahun.

Begitu diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Foke lebih fokus untuk mewujudkan pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) Lebak Bulus – Kota daripada memberesi busway terlebih dulu. Ia seakanakan ingin melahirkan bayi baru (MRT) sehingga menelantarkan bayi yang sudah lahir sebelumnya (busway), lantaran bayi tersebut bukan dirinya sendiri yang melahirkan, tapi bosnya.

Pasangan Gubernur Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur Basuki Tjahja Purnama (Ahok) tidak boleh mengulang kesalahan pendahulunya tersebut. Mereka perlu bekerja keras dan cepat untuk memberesi busway mengingat harapan masyarakat terhadap keberhasilan mereka amat tinggi, termasuk dalam mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Agar orang tidak pupus harapan, perlu langkahlangkah strategis dan sistematis untuk mewujudkan harapan tersebut. Langkah strategis itu adalah dalam tiga tahun pertama pasangan Jokowi-Ahok perlu fokus menyelesaikan persoalan Transjakarta Busway yang paling mungkin diselesaikan dengan biaya lebih murah dan penyelesaiannya yang lebih mudah. Sedangkan sistematis dalam artian tahapannya runtut sehingga ukuran keberhasilannya jelas, dapat dirasakan oleh masyarakat dalam kurun waktu yang singkat.
[INSTRAN | Selanjutnya, baca (download) buku Memberesi Transjakarta Busway]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar