Rabu, 14 Mei 2014

Tiket Elektronik Transjakarta Terkendala Bank

Kepala Hubungan Masyarakat Unit Pengelola Transjakarta, Sri Ulina Pinem, mengatakan sistem tiket elektronik yang mulai digenjot masih kurang berhasil. Penyebabnya, pihak bank yang menjadi mitra penyedia jasa tiket elektronik itu belum menyiapkan infrastruktur tiket yang memadai.

"Jadi, sistem tiket elektronik itu masih terkendala oleh bank-nya sendiri," kata Sri kepada Tempo, Selasa, 13 Mei 2014. Sri mengatakan, Pemerintah DKI Jakarta menggandeng enam bank untuk menyukseskan program tiket elektronik tersebut, yakni Bank DKI, Bank Central Asia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mega. (baca: Begini Mekanisme Tiket Elektronik Transjakarta)

Tujuannya, kata dia, adalah untuk mempersingkat waktu transaksi dan memberikan pelayakan maksimal kepada pengguna moda transportasi massal tersebut. Namun, hingga kini program itu masih belum berjalan dengan baik.

Ketidaksiapan bank dalam memproduksi kartu elektronik membuat pihak Transjakarta belum mendapatkan kenaikkan jumlah pengguna tiket tersebut. Tapi, dia menolak menyebutkan bank yang belum siap dalam sisten kartu elektronik tersebut.

Menurut Sri, masyarakat juga masih enggan menggunakan tiket elektronik.  Kewajiban menggunakan kartu tersebut, dia menambahkan, mengakibatkan jumlah penumpang Transjakarta menurun 20 persen atau sekitar 70 ribu orang sejak awal Mei 2014.

"Karena banyak yang memilih tidak naik Transjakarta kalau harus pakai tiket elektronik," katanya. Namun, kata Sri, jumlah penumpang saat ini perlahan sudah mulai kembali normal di kisaran angka 350 ribu hingga 370 ribu per hari.

Jumlah itu disebutnya merupakan jumlah penumpang normal Transjakarta setiap harinya. Tapi sebagai catatan, pengelola Transjakarta kembali memberlakukan tiket sobek secara manual untuk melayani perjalanan masyarakat.

Langkah itu disebutnya harus diambil untuk menarik penumpang agar kembali menggunakan Transjakarta. Apalagi, pihak bank disebutnya belum memberikan kepastian kapan akan menyiapkan tiket elektronik tersebut. "Perjalanan kan tetap harus jalan, jadi mau tidak mau kami kembali menggunakan tiket sobek tersebut," ujar dia.

Sri mengatakan, mereka tetap yakin untuk 'memaksa' pengguna Transjakarta agar memakai kartu elektronik tersebut. Menurutnya,pemakai jasa transportasi itu bakal beralih ke tiket tersebut jika tidak tersedia tiket manual. Keyakinan itu terlihat dari meningkatnya jumlah transaksi tiket elektronik di Halte PGC Cililitan. "Sekarang rata-rata bisa mencapai 500 transaksi dari sebelumnya tidak ada sama sekali," katanya.

Sebelumnya, Unit Pengelola Transjakarta menargetkan akhir tahun ini pembelian tiket Transjakarta tidak lagi menggunakan sistem manual. Semua halte akan menggunakan tiket elektronik kecuali koridor IV dan VI. Hingga sekarang, baru ada delapan halte yang sudah mewajibkan penggunaan e-ticket, yaitu Halte Kampung Melayu, PGC, Kampung Rambutan, Kalideres, Pinang Ranti, Pulogadung, Pluit, dan Kota. Saat ini sudah 18 persen penumpang Transjakarta yang menggunakan sistem e-ticketing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar