Selasa, 03 Desember 2013

Hati-hati, Trotoar yang 'Hilang' Bisa Jadi Salah Satu Pemicu Diabetes

Jakarta terkenal dengan padatnya kendaraan yang lalu lalang di jalan terutama sepeda motor. Saking padatnya jalanan, terkadang sepeda motor nekat melaju di atas trotoar. Belum lagi trotoar yang kemudian beralih fungsi jadi lahan dagang sejumlah penjual makanan. Alhasil para pejalan kaki pun kehilangan trotoarnya. Padahal 'menghilangnya' trotoar bisa jadi salah satu pemicu diabetes. Bagaimana bisa?

"Saya beberapa kali ke Jakarta dan cukup terkejut dengan kondisi jalan di sini. Orang tidak punya trotoar untuk berjalan, sehingga sulit rasanya bagi orang-orang di sini untuk berolahraga ya," tutur ahli bedah transplantasi hati dari Sing-Kobe Liver Transplant Centre (SKLTC) Mount Elizabeth Novena Hospital Singapore, dr Koichi Tanaka.

Menurut dr Tanaka, di negara asalnya, Jepang, orang masih punya banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk berolahraga. Salah satunya trotoar untuk berjalan kaki. "Hati-hati, jarang olahraga bisa membuat orang obesitas dan meningkatkan risiko Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH)," ujarnya.

Hal itu ia sampaikan di sela-sela 'Ngobrol Santai Bersama Dr Koichi Tanaka dan Dr Prema Raj, The Asian Master of Transplantation Surgeon dari Sing – Kobe Liver Transplant Centre (SKLTC), Mount Elizabeth Novena Singapore' di Hotel Intercontinental, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Selasa (3/12/2013).

Dikutip dari webmd, NASH adalah pembengkakan hati yang disebabkan oleh tumpukan lemak sehingga hati tidak bisa berfungsi dengan baik. Jika tak diatasi, kondisi ini bisa menjadi sirosis hati sehingga untuk menanganinya dibutuhkan transplantasi hati. Salah satu faktor risiko NASH yaitu obesitas, selain itu juga diabetes tipe 2, kolesterol, dan sindrom metabolisme.

"Saya pernah ke Surabaya tiga kali dan melihat banyak anak yang mengalami gangguan hati, matanya kuning, perutnya membesar. Oleh karena itu saya berpikiran untuk membangun liver transplantation center di sini, tapi itu tidak mudah karena harus ada fasilitas yang memadai dan ini bersifat multidisipliner, dua tiga dokter tidak cukup," jelas dr Tanaka.

Dokter berkacamata ini menambahkan pada dasarnya transplantasi bisa dilakukan jika tidak ada cara lain untuk menyelamatkan pasien. Pasien tidak bisa hidup normal jika tidak melakukan transplantasi, dan tidak ada kontradiksi yaitu transplantasi tidak mengganggu organ lain.

"Jangan sampai ia selamat karena transplantasi tapi kemudian meninggal karena gangguan organ lain," ujar dr Tanaka.

Kini, dr Tanaka dan timnya tengah menjalin kerja sama dengan dr Jeyaraj Prema Raj dengan mendirikan Sing – Kobe Liver Transplant Centre (SKLTC) di Mount Elizabeth Novena, Singapura. "Untuk biaya transplantasi anak-anak sekitar Rp 1,7 miliar sampai Rp 2 miliar sedangkan pasien dewasa membutuhkan biaya sekitar Rp 2 miliar sampai Rp 2,2 miliar. Itu termasuk biaya rawat inap resipien (penerima) selama 28 hari, pendonor delapan hari, juga biaya dokter, obat, tes darah, dan ICU," papar dr Tanaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar