Tampilkan postingan dengan label Jak Lingko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jak Lingko. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2020

100 Halte Transjakarta Dipasangi 236 Unit Mesin Isi Ulang E-Money

Untuk memberikan kemudahan pelanggan melakukan isi ulang non tunai secara mandiri tanpa petugas, Transjakarta menargetkan kesiapan 100 halte dengan 236 mesin isi ulang kartu uang elektronik (e-Money). Pemasangan unit mesin sudah mulai dilakukan sejak pertengahan Juli dan di harapkan rampung pada akhir Agustus ini.

Adapun fitur yang dapat digunakan pada mesin ini meliputi:

1. Cek saldo Kartu Uang Elektronik

2. Top Up Kartu Uang Elektronik

3. Update Balance Kartu Uang Elektronik

4. Pembelian Kartu Perdana

5. Pembelian Kartu Perdana dan Top up melalui applikasi WhatsApp

6. Membeli Pulsa Selular maupun Token listrik

7. Transaksi menggunakan QR Code

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta, Nadia Diposanjoyo mengatakan, pihaknya memberlakukan kebijakan penghilangan layanan loket isi ulang dan pembelian kartu menggunakan uang tunai di seluruh loket halte guna mencegah penularan COVID19, dan mulai hari ini, mesin otomatis isi ulang sudah tersedia di beberapa halte koridor diujicobakan untuk kenyamanan pelanggan.

"Untuk saat ini proses pengembangan yang sedang berjalan hanya tinggal transaksi menggunakan debit yang segera disusulkan dalam waktu dekat. Pelanggan yang ingin membeli kartu perdana atau melakukan pengisian ulang atau top up kartu elektronik dapat menggunakan uang tunai," ujar Nadia dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7).

Selanjutnya untuk menghindari kegagalan transaksi, pelanggan diimbau untuk menggunakan uang tunai dalam kondisi yang baik seperti tidak sobek, tidak kusut, uang yang dilem dan semacamnya.

"Untuk pembelian kartu perdana saat ini yang sudah tersedia adalah kartu Jak Lingko dari 3 (tiga) bank yakni BNI, Mandiri dan BRI. Pembelian kartu senilai Rp 30 ribu dengan saldo sebesar Rp 10 ribu," tandasnya.

Berikut sebagian Halte yang sudah terpasang Vending Machine dan dapat melayani transaksi :

1. Halte Kota (Koridor 1)

2. Halte Harmoni (Koridor 1)

3. Halte Monas (Koridor 1)

4. Halte Sarinah (Koridor 1)

5. Halte Bundaran HI (Koridor 1)

6. Halte Tosari (Koridor 1)

7. Halte Karet (Koridor 1)

8. Halte Bendungan Hilir (Koridor 1)

9. Halte GBK (Koridor 1)

10. Halte Bunderan Senayan ((Koridor 1)

11. Halte Blok M (Koridor 1)

12. Halte Kalideres (Koridor 3)

13. Halte Kp Melayu (Koridor 5)

Rabu, 05 Februari 2020

Pelanggan Transjakarta Tembus Satu Juta Per Hari

Melalui komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna moda transportasi umum, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mencatatkan sejarah baru dengan jumlah pelanggan yang sudah mencapai lebih dari satu juta orang per hari.

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta, Nadia Diposanjoyo mengatakan, pada Selasa, 4 Februari 2020, sudah dilayani sebanyak 1.006.579 pelanggan.

"Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan Selasa, 28 Januari lalu yang mencapai 987.583 Pelanggan," ujarnya, Rabu (5/2).

Nadia menjelaskan, pencapaian ini tidak lepas dari dukungan dan program-program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

"Salah satu poin terbesar yang mengumbang pencapaian lebih dari satu juta pelanggan adalah adanya program layanan transportasi terintegrasi, Mikrotrans Jak Lingko yang dicanangkan oleh Pak Gubernur. Layanan ini sangat membantu sebagai moda first mile dan last mile masyarakat," terangnya.

Ia menambahkan, pencapaian ini diraih juga tidak terlepas dari konsistensi PT Transjakarta dan Pemprov DKI dalam menyediakan layanan transportasi teintegrasi.

"Kami akan terus memberikan layanan maksimal bagi pelanggan kami tentunya. Terima kasih telah bersama kami dalam memajukan transportasi di DKI Jakarta," ungkapnya.

Saat ini, sambung Nadia, PT Transjakarta sedang fokus dalam mengupayakan program mandiri bertransportasi. Guna mewujudkan itu, PT Transjakarta telah menerapkan sistem pengarah perjalanan (wayfinding) serta memasang alat Tap on Bus (ToB) di seluruh armada Non Bus Rappid Transit (BRT). Bahkan, dalam jangka 5-10 tahun ke depan, PT Transjakarta sudah menyiapkan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).

"Kami menekankan empat target utama yang akan dicapai yaitu, terkait peningkatan ridership, pelayanan armada, infrastruktur, dan pendapatan nontiket," ucapnya.

Menurutnya, untuk target jumlah pelayanan armada bus Transjakarta ditingkatkan hingga 19 persen atau mencapai 4.334 armada. Rinciannya, sebanyak 967 BRT, 1.167 bus non-BRT, dan 2.200 mikrotrans.

"Kami juga melakukan penambahan jangkauan layanan dari 278 rute menjadi 285 rute," tandasnya.

Selasa, 15 Oktober 2019

Dua Tahun Kepemimpinan Anies, Dari Transjakarta, MRT dan LRT Menuju Integrasi Transportasi Jak Lingko

"Anugerah Transportasi Berkelanjutan menunjukkan kemauan politik bahwa (pemerintah) kota berkemampuan penuh untuk menempatkan solusi jitu guna memperbaiki lingkungan kota,” kata Aimee Ganthier dari Komite Sustainable Transport Award 2020 yang menganugerahi Honorable Mention kepada Jakarta.

Mengutip siaran pers PPID DKI Jakarta, Selasa (15/10), Jakarta bersama Kota Pune di India dan Kigali di Rwanda, mendapat penghargaan bergengsi internasional itu berkat sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang cepat, nyaman, aman, serta tepat waktu.


 Transjakarta

Bus Transjakarta melaju pada lintasan terpanjang di dunia, yakni 251,2 kilometer. Sejak 2004 – 2017, rata-rata penumpang harian bus Transjakarta berkisar 300.000 penumpang per hari. Pada 2019, jumlah rata-rata penumpang naik dua kali lipat, berkisar 641.000 penumpang per hari. Jumlah armada dalam tiga tahun terakhir juga meningkat, yaitu pada 2017 sebanyak 2.380, 2018 sebanyak 3.017, dan 2019 sebanyak 3.548 bus. BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan ini ditargetkan mencapai 3.565 unit pada akhir 2019.

Memiliki 260 halte yang tersebar dalam 13 koridor, Public Service Obligation (PSO) TransJakarta bertambah sepuluh kali lipat lebih, dari Rp 333.084.520 pada 2011 menjadi Rp 4.197.240.979 pada 2020. Pada 2019, fasilitas bus TransJakarta terintegrasi dengan dua moda transportasi lain berbasis rel, yakni MRT di Bundaran HI dan LRT di Jalan Pemuda. Tiga bus listrik juga sudah menjalani uji coba tahun ini, untuk mengatasi polusi udara di Ibu Kota. 



Moda Raya Terpadu (MRT)

Sejak pengoperasiannya diresmikan pada 24 Maret 2019, Moda Raya Terpadu (MRT) menjadi primadona transportasi publik termodern di Jakarta dan satu-satunya di Indonesia. Kereta Ratangga melewati 13 stasiun Fase 1, dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia, sepanjang 16 kilometer setiap hari. Enam kilometer di antaranya di bawah tanah (underground) yang melalui enam stasiun, yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia. Sedangkan sepuluh kilometer sisanya merupakan struktur layang (elevated) yang melewati tujuh stasiun, yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, serta Sisingamangaraja. Sementara depo kereta berdekatan dengan Stasiun Lebak Bulus yang menjadi tempat pertemuan pertama Jokowi dan Prabowo Subianto pada 13 Juli 2019, setelah pemilihan presiden.

Sehari-hari Moda Raya Terpadu dikelola PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) yang berdiri pada 17 Juni 2008. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) inilah yang merancang pembangunan koridor MRT Jakarta Utara-Selatan Fase 2 Bundaran HI-Kota, selain koridor MRT Jakarta Timur-Barat Fase 3 Kalideres-Cempaka Baru. Pembangunan MRT Fase 2 direncanakan pada 2020 dan ditargetkan selesai empat tahun kemudian.

PT MRT Jakarta menargetkan, jumlah  penumpang harian mencapai 100.000 orang pada akhir 2019. Hingga Juli 2019, jumlah rata-rata pengguna MRT Jakarta mencapai 94.824 orang per hari, naik 15,9 persen dari bulan sebelumnya. Ketepatan waktu kedatangan, waktu tempuh, dan waktu berhenti kereta di stasiun MRT mencapai 100 persen dari total 6.159 perjalanan kereta.

Light Rail Transit (LRT)

Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) adalah suatu moda layanan transportasi penumpang yang beroperasi di atas rel ringan. Kendati kecepatan rata-ratanya sekitar 50 kilometer per jam, kereta LRT Jakarta dapat mencapai kecepatan maksimum hingga 90 kilometer per jam.

Kereta LRT Jakarta merupakan buatan Hyundai Rotem dari Korea Selatan yang memiliki kelebihan, yakni menggunakan sistem articulated bogie. Teknologi yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia ini memungkinkan kereta dapat melaju dengan aman dan luwes, mengikuti kontur jalur trek di tikungan tajam.

Selain nyaman dan berstandar internasional, LRT pun dapat menghemat waktu berkisar 13-15 menit perjalanan dari Kelapa Gading, Jakarta Utara ke Stasiun Velodrome, Jakarta Timur. Bila dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui skybridge dari Stasiun Velodrome menuju Halte Pemuda Rawamangun, kemudian diteruskan dengan naik bus TransJakarta ke Halte Dukuh Atas, akan memakan waktu sekitar 40 menit. Jadi bila diakumulasikan, total waktu perjalanan dengan integrasi LRT Jakarta dan bus Transjakarta dari Kelapa Gading sampai Dukuh Atas berkisar 55-60 menit.

Sejak 11 Juni 2019, LRT Jakarta diuji coba secara gratis melewati enam stasiun, yaitu Pegangsaan Dua, Pulomas, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Equestrian, serta Velodrome. Sejak 11 Juni – 13 Oktober 2019, LRT Jakarta telah melayani 798.000 penumpang. LRT Jakarta beroperasi pukul 06.00-22.00 WIB pada Senin-Jumat dan 07.00-23.00 WIB pada Sabtu-Minggu.

Sistem Transportasi Terintegrasi (Jak Lingko)

Jak Lingko merupakan sistem transportasi terintegrasi baik rute, prasarana , maupun pembayarannya. Integrasi ini tidak hanya melibatkan antar bus besar, medium, serta kecil dan TransJakarta, tetapi juga transportasi berbasis rel yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti MRT dan LRT.

Selain itu sistem Jak Lingko juga mengintegrasikan prasarana dengan PT. KCI dan Railink yang dimili PT. KAI. Contoh integrasi ini dapat dilihat di kawanan Dukuh Atas, dimana empat moda transportasi umum terkoneksi secara nyaman melalui pedestrianisasi Jalan Kendal dan trotoar yang lebar.

Nama Jak Lingko diambil dari dua kata, yaitu Jak yang berarti Jakarta dan Lingko yang bermakna jejaring atau integrasi (diambil dari sistem persawahan tanah adat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur). Nama ini dipilih karena mencerminkan makna sistem transportasi terintegrasi yang sedang dibangun di Ibu Kota.

Pemprov DKI Jakarta menargetkan 10.047 armada armada kecil, sedang, serta besar terintegrasi Jak Lingko dan akan segera diremajakan tahun depan.

“Untuk implementasi pembatasan usia kendaraan angkutan umum sepuluh tahun akan direalisasikan maksimal pada 2020," ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo.

Sistem pembayaran cashless dengan kartu Jak Lingko bertarif maksimal Rp 5.000 per tiga jam, khusus untuk transportasi berbasis jalan. Misalnya Anda naik bus TransJakarta pukul 07.00, lalu naik angkot yang sudah berlogo Jak Lingko pukul 08.30, dan kembali naik bus TransJakarta pukul 10.00, maka saldo dalam kartu Jak Lingko Anda akan berkurang Rp 5.000.

Kartu Jak Lingko seharga Rp 30.000 yang bersaldo Rp 10.000 dapat diisi ulang melalui ATM Bank DKI dan BNI. Dengan kemudahan itu, target penumpang angkutan umum di Jakarta mencapai 260 juta orang pada 2019, bertambah dari 145 juta penumpang pada 2017 dan 190 juta orang pada 2018. Di samping mengurangi polusi udara dengan berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, kemacetan juga berkurang dari nomor empat menjadi ketujuh di dunia.

Integrasi ini diperkuat kolaborasi dengan Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ) dan komunitas kreatif Kreavi, untuk memasang papan informasi seputar transportasi publik di 28 halte non BRT Koridor Sudirman. Informasi yang dipasang tersebut berupa peta, penanda (signage), dan penunjuk jalan (wayfinding) untuk memudahkan masyarakat maupun turis mancanegara dalam menggunakan kendaraan umum di Jakarta.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan pemasangan informasi transportasi publik ini merupakan kolaborasi yang serius antara Pemprov DKI Jakarta dengan warga dalam mewujudkan konsep City 4.0 di Ibu Kota.

Perluasan sistem ganjil genap dari sembilan menjadi 25 ruas jalan yang dimulai pada 9 September 2019, juga mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Jajak pendapat harian Kompas yang diterbitkan pada 6 Oktober 2019 mengungkapkan, 42 persen responden memilih naik angkutan umum dengan menggunakan bus TransJakarta, MRT, atau kereta Commuterline.

Evaluasi Pemprov DKI pada masa uji coba perluasan ganjil genap dari 12 Agustus 2019 hingga 6 September 2019, volume kendaraan memang menurun 25,24 persen. Dengan berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, kemacetan pun berkurang dari nomor empat menjadi ketujuh di dunia, selain mengurangi polusi udara.

Senin, 11 Februari 2019

PT Transjakarta Buka Rute Taman Kota-Budi Luhur

PT Tranjakarta kembali membuka rute baru layanan Jak Lingko di Ibukota. Kali ini, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut mengoperasikan layanan Jak Lingko dengan rute Taman Kota-Budi Luhur (JAK51).

"Rute Taman Kota-Budi Luhur (JAK51) ini merupakan layanan ke 30 dengan operator Koperasi Wahana Kalpika (KWK). Kita operasikan 15 unit bus kecil," Agung Wicaksono, Direktur Utama PT Transjakarta, Senin (11/2).

Agung menjelaskan, rute Taman Kota-Budi Luhur ini memiliki 62 titik pemberhentian bus (bus stop) yang terintegrasi dengan layanan bus Transjakarta. Antara lain Tanjung Priok-Plumpang, Tanah Abang-Kota, Tanah Abang-Kebayoran Lama.

Kemudian Tanah Abang-Pos Pengumben-Kebayoran Lama, Tanah Abang-Meruya, Tanah Abang-Tawakal, Tanjung Priok-Bulak Turi, Pusat Grosir Cililitan (PGC)-Condet, Pulogadung-Senen, Stasiun Duren Kalibata-Kuningan.

Berikutnya Pinang Ranti-Setu, Kampung Melayu-Duren Sawit, Lubang Buaya-Cawang UKI, PGC-Dwikora, Penas Kalimalang-Dwikora, Kalisari-Pasar Rebo, Duren Sawit-Rawamagun, Rorotan-Pulogebang.

Pasar Rebo-Wiladatika, Tanjung Priok-Rusun Sukapura, Lebak Bulus-Pondok Labu, Citraland-Meruya, Pondok Labu-Blok M, Petukangan-Lebak Bulus, Pulogadung-Kota, Grogol-Tubagus Angke, Semper-Rorotan dan Kampung Rambutan-Pondok Gede.