Selasa, 24 September 2013

Transjakarta Akan Beroperasi 24 Jam

Untuk meningkatkan pelayanan transportasi massal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana menambah jam operasional bus Transjakarta menjadi 24 jam. Saat ini operasi Transjakarta berakhir pada pukul 23.00.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama menerangkan Pemprov DKI mempunyai rencana untuk menambah 400 unit bus Transjakarta yang akan dimulai pada November 2013 mendatang. Penambahan armada bus Transjakarta ini untuk mempersingkat waktu kedatangan antarbis dan mencegah jalur bis terisi kendaraan lainnya.

“Kita mau tambah 400 unit bus lagi sesuai dengan jatah dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah (LKPP),” kata Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta, Selasa (24/9).

Dengan penambahan tersebut, pihaknya bisa menarik 40 unit bus Transjakarta yang sudah rusak untuk diperbaiki. Setelah rampungi diperbaiki, maka 40 unit bus tersebut akan dijadikan bus Transjakarta yang beroperasi di malam hari.

“Jadi 40 armada yang nggak bagus itu mau kita perbaiki kembali kondisinya. Dan kita jadikan angkutan malam hari. Sehingga nanti bus Transjakarta beroperasi selama 24 jam. Hanya saja nanti jarak tunggunya berbeda antara pagi hingga siang hari dan malam hari. Kalau siang bisa 3-5 menit, kalau malam tiap 30 menit,” jelasnya.

Pengoperasian bus Transjakarta hingga malam hari sebenarnya diharapkan bisa dilaksanakan pada tahun ini juga. Namun karena ada keterlambatan pembelian bus, maka pengoperasian busway hingga 24 jam harus menunggu hingga tahun depan.

“Harusnya November ini, tapi kan datangnya hanya 300 unit. Jadi belum cukup diambil untuk dipakai sebagai angkutan malam hari. Harusnya kan masuknya hampir 700 unit. Itu dikarenakan gagal lelang dan macam-macam lah penyebabnya,” ujar mantan Bupati Belitung Timur ini.

Pengoperasian angkutan malam hari, lanjutnya, untuk tahap awal akan diberikan kepada Unit Pengelola (UP) Transjakarta. Kendati demikian, Pemprov DKI juga akan menawarkannya kepada pengusaha otobus lainnya. Jika mereka setuju dengan perjanjian bisnis to bisnis, maka Pemprov DKI bersedia membayar dengan harga per kilometer yang sesuai dengan hasil lelang.

“Kalau untuk perusahaan otobus atau angkutan umum lainnya terserah, mau ikut atau nggak. Yang penting kita tawarkan ke mereka bisnis ke bisnis. Kita bayar per kilometer supaya mereka mampu membayar sopir. Umumnya mereka nggak mau yang bus sedang, mereka tuh maunya tarif Rp 6.000, tapi bisa masuk ke busway. Maunya kayak gitu,” terangnya.

Karena ada pengurangan jumlah bus yang akan dibeli, mengakibatkan adanya anggaran tak terserap. Ahok mengatakan, anggaran yang tidak terserap tersebut akan dikembalikan.

“Ya bisa juga kan dibalikin. Karena dipotong kan dari Rp 1,2 triliun jadi tinggal Rp 1 triliun, itu anggaran pengadaan bus ya. Terus yang pengadaan bus sedang juga ada pemotongan dari 500 unit jadi 400 unit atau berapa gitu. Saya lupa,” imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar