Senin, 05 Januari 2004

Pengguna Jalur 'Busway' Buka Suara


Yessy Gusman, 41 tahun
"KITA jangan apriori dulu dalam menyikapi proyek busway," ujar artis yang ngetop lewat film Gita Cinta dari SMA ini, "Kita lihat dulu bagaimana pelaksanaannya." Menurut pendiri yayasan yang mengurusi taman baca anak-anak ini, sepertinya busway bisa menjadi jalan keluar persoalan kemacetan lalu lintas. Selama ini, kalangan menengah ke atas kurang memperoleh fasilitas transportasi umum yang nyaman, sehingga mereka lebih suka mengendarai mobil sendiri.
Yessy sempat merasakan transportasi umum yang nyaman, murah, dan tepat sewaktu kuliah di San Francisco, Amerika Serikat, belasan tahun silam. "Di sana biaya parkir mahal, jadi membawa mobil sendiri enggak enak. Tapi kendaraan umumnya nyaman," ia bercerita. Nah, yang harus dipikirkan kemudian adalah kendaraan atau fasilitas pendukungnya.
Bahkan, dengan sistem three in one pun, Yessy tak begitu keberatan. Ia mengaku tak pernah dan tak akan menggunakan jasa joki. "Biasanya saya melibatkan orang rumah untuk menggenapi jumlah penumpang," katanya. Cuma, dia bisa menghindari busway kalau berangkat dari kediamannya di Pantai Mutiara, Ancol, menuju kantornya di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Soemanto Imam Sudewo, 32 tahun
MANAJER Umum PT Sepanjang Inti Surya Berjangka ini punya mimpi, setelah busway dioperasikan, lalu lintas di sepanjang Blok M-Kota jadi lebih lancar. "Tidak seperti sekarang, macet di sana-sini," katanya. Soemanto juga memimpikan, ketika dia melewati Jalan Jenderal Sudirman dari rumahnya di Bekasi menuju kantornya di Menara Thamrin, jalan yang dilaluinya akan lebih bersih, lebih enak dipandang, dan nyaman.
Menurut dia, kalau perencanaan pemerintah benar, busway akan menjadi alternatif yang bagus. "Orang akan lebih memilih busway," katanya seraya menambahkan betapa pentingnya pengelolaan aspek kebersihan, kenyamanan, dan keamanan. Yang terakhir ini penting, menurut dia, karena busway akan menyedot massa penumpang ke satu titik secara bersamaan. "Ini menimbulkan kerawanan tersendiri, termasuk peluang bagi aksi copet," katanya.
Akan halnya sistem three in one, ayah satu anak ini juga tak keberatan. Selama ini, ia berangkat dari rumah bersama istri dan teman sekantor yang kebetulan tinggal berdekatan. "Tapi, kalau ke luar kantor, jelas saya akan mencari joki," katanya. Baginya, yang penting ialah bagaimana pengoperasian busway memenuhi "promosi" yang diuar-uarkan selama ini. "Kalau tidak, proyek ini hanya akan menghambur-hamburkan uang negara," katanya.

Mery Djajakustio, 34 tahun
IBU dua anak yang tinggal di Alam Sutra, Serpong, ini mengaku bingung kalau sistem busway mulai beroperasi. "Kalau menuju atau pergi dari kantor di Gatot Subroto, aku bisa kena three in one," katanya. "Apalagi kalau habis mengantarkan anak-anak sekolah di kawasan Kota," ia menambahkan. Bagi orang seperti Mery, yang selalu mengendarai mobil, masalah utamanya memang sistem three in one yang akan diperpanjang. Menyewa joki? "Serem," katanya, "Mending mencari jalan alternatif."
Pada dasarnya Mery mengaku tak keberatan dengan sistem busway. Sewaktu kuliah di Australia dulu, dia terbiasa menggunakan angkutan publik. "Asal fasilitasnya bagus," ia menjelaskan. Selama ini, perempuan yang berbisnis di perusahaan multilevel marketing untuk satu produk Prancis ini memang masuk kategori sering melintasi jalan jalur busway. "Kalau bawa mobil, kan, besar di ongkos bensin, dan juga selalu sulit mencari parkir," katanya.
Menurut dia, satu hal lagi yang harus dipikirkan pemerintah kalau mereka ingin para pengguna mobil beralih ke busway ialah mempersiapkan lahan parkir bagi pengendara mobil yang akan menggunakan busway. Kalau masalah ini tak terpecahkan, terpaksa Mery tetap menggunakan mobil. Memang dia akan lebih rumit berpikir mencari jalur alternatif.

Gunadi, mahasiswa angkatan 2001
MAHASISWA Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Atma Jaya ini tak percaya proyek busway akan efektif dalam jangka waktu lama. "Paling satu tahun," kata Gunadi, yang setia menggunakan bus kota menuju kampusnya di Semanggi. Lebih buruk lagi, warga Bintaro ini menganggap busway hanya proyek pemborosan. "Lebih baik perbaiki bus-bus yang ada, dan jaga agar keamanannya terjamin," ujarnya.
Menurut dia, bila busway mengunggulkan kenyamanan dan jaminan keamanan, tingkat keamanan dan kenyamanan bus-bus yang ada juga bisa diperbaiki. "Atau uangnya buat dana tambahan pendidikan, atau untuk bayar utang," katanya. Gunadi berpendapat, proyek Pemda DKI ini juga akan membuat wilayah di sekitar Sudirman-Kota jadi macet.
Wilayah yang akan terkena dampak ini, katanya, meliputi kawasan di sekitar Kuningan. Sebab, menurut Gunadi, kelas menengah seperti manajer dan pebisnis, yang biasa menggunakan kendaraan pribadi, tidak akan mau meninggalkan mobilnya. Gunadi juga mencontohkan kemacetan yang sudah terjadi selama pembangunan lajur busway. "Mobil tidak berkurang, tapi lajur jalan dikurangi," katanya.

Sri Handayani, 37 tahun
"MUDAH-mudahan enggak jadi," kata asisten informasi dan dokumentasi di kantor Komisi Eropa ini ketika ditanyai soal busway. Ibu dua anak ini memang akan lebih ribet kalau program busway dimulai. Selama ini, dia sudah merasa nyaman dengan sistem transportasi yang digunakannya. Dari rumahnya di Villa Pamulang Mas, biasanya dia diantar suaminya sampai Ciputat, kemudian naik bus Bianglala dan turun tepat di depan kantornya di Wisma Dharmala Sakti, Jalan Jenderal Sudirman. Dia selalu mendapat tempat duduk dari Ciputat hingga kantornya.
Kalau proyek busway dimulai, dia sudah membayangkan repotnya harus naik feeder dari Ciputat sampai Blok M, kemudian disambung dengan busway. Belum lagi kalau di feeder atau busway-nya dia tak mendapat tempat duduk. Lalu bagaimana pula macetnya perjalanan pulang dari kantornya menuju Stasiun Tanah Abang? Selama ini, dia selalu pulang naik kereta api.
Sekarang saja kawasan Sudirman sering macet. Apalagi kalau nanti diberlakukan three in one di sore hari. Lengkaplah kesebalan Yani. "Saya akan ambil cuti pada hari pertama busway dioperasikan," katanya. "Kebayang, hari pertama pasti kacau," ia menambahkan.
Yani sebetulnya bukan anti-busway. "Sebenarnya, kalau nyaman, tidak apa-apa," ujarnya. Apalagi ia mendengar, feeder juga harus berpenyejuk udara. "Namun apa para pengusaha sanggup menyediakan fasilitas ini?" ia bertanya.

Yadi, 21 tahun
PENGAMEN yang biasa beroperasi di bus jurusan Blok M-Kota ini mengaku tak terlalu paham urusan busway. "Enggak sempat, deh, baca koran, jadi enggak terlalu ngarti," katanya. Harapannya simpel, "Semoga busway enggak mematikan pendapatan saya." Selama ini, dari hasil mengamen, ia bisa menangguk setidaknya Rp 20 ribu setiap hari. Bahkan, kalau lagi ramai, dia bisa mendapat lebih dari Rp 30 ribu. Kalau busway dioperasikan, menurut Irzal Djamal, asisten gubernur yang juga ketua proyek busway, pengamen tidak boleh beroperasi di busway.
"Tapi saya pasrah aja," kata Yadi. Bahkan dia bersiap, kalau pendapatan dari mengamen kian tak keruan, dia mungkin akan pindah profesi. "Mau coba-coba melamar jadi satpam aja, kali," ujarnya. Tapi Yadi tetap berharap, dia dan rekan-rekan pengamennya boleh mencari penghasilan di busway. "Saya enggak keberatan kok kalau harus mendaftar resmi segala sebagai pengamen di busway. Pake seragam segala, kali, ya?" ujarnya sembari terbahak.

Purwani Diyah Prabandari, Telni Rusmintantri, Muchammad Nafi dan Yophiandi Kurniawan (TNR)
[Majalah Tempo Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004 / Batavia Busway]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar