Senin, 27 Mei 2013

Transperth, Bukan Saudaranya TransJakarta

lihat foto-foto Transperth

Perth - Transportasi publik yang rapi, ikut memudahkan wisatawan saat traveling ke suatu kota. Kalau Jakarta punya TransJakarta, Kota Perth di Australia juga punya Transperth. Serupa, tapi tak sama.

TransJakarta adalah sistem bus di Jakarta dengan beberapa koridor yang terintegrasi dan terkoneksi sehingga memudahkan penumpang. Nah, kalau Transperth tidak hanya sistem bus yang terkoneksi, tapi juga kereta komuter dan ferry di Kota Perth. detikTravel mencoba Transperth ini Sabtu (11/5/2013).

Saya memilih kereta komuter, moda transportasi yang paling banyak bisa mengangkut penumpang. Kebetulan, saya memang hendak menuju Fremantle, kota pelabuhan kecil di pinggiran Perth. Saya pun melangkahkan kaki ke Stasiun Perth Central yang tidak jauh dari hotel saya menginap.

Jika melihat peta jaringan kereta TransPerth, ada 5 jalur kereta dengan 5 warna berbeda. Armadale/Thornlie dengan jalur kuning, Fremantle dengan jalur biru, Joondalup dengan jalur hijau lumut, Midland dengan jalur ungu, Mandurah dengan jalur coklat.

Untuk yang pernah naik MRT di Singapura atau MTR di Hong Kong, saya akan bilang sistem kereta Transperth hampir serupa. Masuk ke stasiun, kita akan melihat mesin tiket laksana ATM dan penumpang tinggal memilih jenis tiket yang akan dibeli. Ada beberapa pilihan tiket untuk penumpang.

Jalur kereta Transperth dibagi dalam 9 zona dari pusat Kota Perth ke arah luar kota. Semakin jauh harga tiket pun semakin mahal. Pastikan Anda tahu di zona berapa destinasi Anda dengan melihat peta dekat mesin tiket. Selain itu masih ada Day Rider, tiket untuk naik kereta kemanapun seharian. Yang paling asyik, ada Family Rider, satu tiket ramai-ramai untuk maksimal 7 penumpang yang berlaku untuk akhir pekan dan hari libur. Pada hari kerja, Family Rider hanya bisa dipakai mulai dari sore hari.

Dari Perth ke Fremantle hanya dua zona, dan penumpang membayar AUD 4 (Rp 40.000). Day Rider dan Family Rider harganya AUD 11 (Rp 110.000). Saya pilih membeli tiket eceran karena memang tidak akan banyak memakai Transperth hari itu. Setelah melewati portal penumpang, saya tiba di peron Stasiun Perth. Kereta bertuliskan Fremantle sudah menunggu di peron 5.

Tidak lama menunggu, wussh, kereta saya pun berangkat. Suasana di dalam kereta sangat rapi, resik dan nyaman seperti MRT Singapura atau MTR Hong Kong. Kalau saya naik saat hari kerja, mungkin lebih banyak lagi orang yang naik. Dinding kereta berisikan karikatur lucu mengenai imbauan agar tidak merusak kereta, dan menghormati penumpang lain.

Bukan artinya Transperth lolos dari aksi vandalisme. Jendela dekat saya duduk tampak digurat tulisan dengan benda tajam entah apa dan langsung ditempel stiker peringatan "This is not art!"

Saya menikmati pemandangan di luar jendela. Gedung-gedung tinggi di Kota Perth berganti dengan rumah-rumah penduduk khas Australia dengan pagar pendeknya di pinggiran kota. Beberapa dengan rumah setengah panggung yang khas terutama di negara bagian Western Australia, Queensland dan Northern Teritory. Pohon-pohon kayu putih juga bertebaran menjadi peneduh jalan raya, orang Australia menyebutnya eucalyptus, pohon kesukaan koala.

Setelah sekitar 45 menit perjalanan, saya tiba di kawasan pelabuhan. Jejeran kapal mengeluarkan isi kargonya ke sebuah lapangan besar berupa mobil-mobil, traktor dan aneka alat berat lain. Garis pantai yang panjang juga disusuri oleh kereta saya, hingga kereta pun melambat.

Saya tiba di Stasiun Fremantle yang tampak antik, berbeda dengan Stasiun Perth yang modern. Transperth memang memberikan perjalanan yang mudah dan praktis. Begitu praktisnya, sehingga akses untuk orang cacat, manula dan ibu hamil juga tersedia, mulai dari lift khusus sampai tempat duduk khusus di dalam gerbong kereta. Traveling di Perth, naik Transperth saja!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar